QMochi

Ikeh, Kimochi, Hayaku, Dame, Yamete Kudasai

  • Home
  • Menu
  • Menu
  • Download Theme
  • Twitter
  • Facebook
  • GooglePlus
  • Instagram
  • Youtube

Welcome To The Internet

Posted on 13.17.00 Tidak ada komentar:
- article
Satu minggu yang lalu Young Lex rilis lagu berjudul Bad featuring Awkarin. Dalam kurun waktu satu minggu, lagu itu booming di mana-mana. Waktu postingan ini ditulis, video musik yang diupload ke YouTube itu udah tembus enam juta views. Gokil luar biasa. Bayangkan, berapa banyak uang yang dimiliki Young Lex cuma dari adsense satu video? Udah bisa dipake buat beli 10 saham pabrik cendol kayaknya. Tapi bukan itu yang mau gue bahas. Oke skip.

Menurut gue pribadi, Young Lex itu seorang seniman. Dia lebih dari sekadar musisi. Kalau yang lain cuma bisa nyanyi dan punya nada suara, Young Lex punya kejujuran dalam berkarya. Dan cuma seorang seniman yang berani jujur untuk setiap karya yang dibuatnya. Atau kalau dibalik, seorang seniman memang dituntut untuk selalu jujur setiap kali berkarya.

Flashback sedikit, sebelum lagu Bad menjadi viral di social media, Young Lex juga sempat bikin lagu yang menjadi kontroversi. Ganteng-Ganteng Swag featuring Andovi Da Lopez, Jovial Da Lopez, Reza Oktovian, Kemal Palevi, dan Dycal. Kasusnya sama, lagu GGS dan Bad menjadi viral karena liriknya mengundang kontroversi. Banyak orang yang mencela karena lirik lagu tersebut berisi kata-kata yang kurang pantas untuk dinyanyikan.

Tapi menurut gue, kedua lagu itu bener-bener keren. Baik dari musik ataupun lirik, keduanya sama-sama punya power.

Gue tahu, lirik kedua lagu itu nggak pantes buat anak kecil. Ya karena lagunya memang bukan buat anak kecil. Gue juga tahu kalian akan bilang, "Tapi kan audiens mereka banyak anak kecil? Lagian kenapa diupload ke YouTube? Suatu media yang bersifat bebas." Justru itu pertanyannya. Kalau udah tahu internet sifatnya bebas, kenapa banyak orang tua yang memberikan smartphone dengan fitur akses internet ke anaknya. Dan kenapa smartphone anaknya nggak diatur sesuai usia mereka?

Menjadi orang tua nggak mudah. Kalau kalian ingin kerja instant sebagai orang tua, gue rasa kalian keliru dan belum siap dengan teknologi. Kalau mau kerja instant, anak kecil jangan dikasih smartphone.

Mungkin kalian akan bilang, "YouTube kan punya fitur untuk filter audiens, di mana video cuma bisa ditonton oleh usia sekian." Iya, tapi usia ketika daftar suatu akun bisa dimanipulasi. Anak kelahiran tahun 2000 bisa daftar dengan data kelahiran 1985. Tapi gimanapun juga, gue setuju kalau konten remaja dan dewasa memang harus difilter untuk penonton remaja dan dewasa. Supaya target marketnya nggak ngawur.

Sebagai orang tua, kalau kalian memang punya waktu untuk menghina dan mencaci pembuat karya, mungkin akan jauh lebih baik kalau waktunya dipake buat memberikan edukasi ke anak kalian. Dan kalaupun mau ngomentarin suatu karya, mungkin akan jauh lebih enak kalau pake bahasa yang sopan. Atau kalian memang nggak bisa bedain antara kritik, saran, dan cacian?

Ngomentarin suatu karya yang dianggap merusak moral anak-anak dengan bahasa kasar, sama artinya dengan mengajarkan anak-anak bahwa mencaci itu suatu tindakan yang terpuji. Jadi apa bedanya kalian sama si pembuat karya yang menurut kalian merusak moral anak-anak itu? Mau mengganti pancasila menjadi 'keadilan bagi seluruh mayoritas di Indonesia' maksudnya? Jangan konyol.

Sepengamatan gue, ada tiga tipe manusia setelah dengerin lagu Young Lex featuring Awkarin. Pertama, yang biasa aja dan dengerin lagunya cuma karena kepo. Kedua, yang suka sama lirik dan musiknya terus download lagunya buat disimpen di playlist. Ketiga, yang nggak suka dengan cara menghina musisinya di kolom komentar video dan nyindir-nyindir di social media yang dia punya. Nah, tipe orang yang terakhir, biasanya tipikal manusia yang ngerepotin bangsa dan negara.

Gue cuma heran, kalau kalian memang punya kekuatan untuk mencaci lagu ini dengan dalih merusak moral anak-anak, kenapa kalian nggak rusuh di depan pemerintah untuk sekian banyak sinetron sampah di Indonesia? Kenapa kalian nggak ribut untuk jam tayang sinetron yang rasis pada jam tayang film kartun atau serial-serial berpendidikan? Apa karena kalian pikir cerita cinta-cintaan anak SMA adalah hal yang wajar untuk ditonton oleh anak SD dan SMP?

***

Ngomong-ngomong, Young Lex sama Awkarin udah upload video klarifikasi lagu Bad. Kalau mau nonton, bisa klik:

https://youtu.be/9XKMNeLOfus

Welcome to the internet, people.
Read More

YouTube Content Creator

Posted on 14.22.00 1 komentar:
- article
Di postingan kali ini gue mau ngomongin YouTube, lebih spesifiknya cara menjadi YouTube Content Creator buat temen-temen yang pengin jadi YouTuber. Iya, menurut gue ada sedikit perbedaan antara YouTube Content Creator dan YouTuber.

YouTuber itu orang yang mengupload video di YouTube secara terus menerus. Mau video buatan orang lain, video hasil download dari situs lain, atau video mixing punya orang lain, yang penting upload di YouTube. Dan dilakukan secara berkelanjutan. Artinya, kalau kamu cuma upload video ke YouTube seumur hidup sekali, atau misalnya lima tahun sekali, kamu bukan YouTuber. Karena imbuhan '-er' itu berlaku untuk para 'pelaku' bukan cuma 'penumpang'. Paham?

Sedangkan YouTube Content Creator adalah orang-orang yang membuat video dan menguploadnya ke YouTube. Video yang diupload adalah video yang bener-bener hasil buatan sendiri. Dalam artian konten yang mereka miliki adalah hak ciptanya sendiri. Jadi bedanya, kalau YouTuber itu sebatas upload secara berkelanjutan, sedangkan YouTube Content Creator itu pembuat video di mana kontennya milik sendiri.

Singkatnya, semua YouTube Content Creator itu udah pasti YouTuber, tapi nggak semua YouTuber itu YouTube Content Creator. Gitu.

Sampai di sini udah jelas? Oke, lanjut.

1. Bikin YouTube Channel

Kalau mau upload video di YouTube, kamu harus punya YouTube Channel dulu. Cara bikinnya gampang banget. Kamu tinggal klik: www.youtube.com dan daftar dengan gmail yang kamu punya.

YouTube Channel yang baik adalah channel yang punya poto profil, cover, nama, dan deskripsi singkat tentang channel-nya.

2. Upload Video

Iya sih, cara upload video di YouTube itu emang gampang. Tapi supaya video kamu lebih keren diliat, kamu harus mau luangin waktu buat bikin thumbnail video. Ada banyak konsep yang bisa kamu pake buat bikin thumbnail. Kalau gue, pake konsep border warna-warni supaya lebih colorfull.

Buat referensi, kamu bisa main ke Channel milik EdhoZell atau Kevin Anggara.

3. Bikin Playlist

Ini cukup penting, terutama kalau kamu punya beberapa kategori video. Misalnya di channel itu kamu upload video-video vlog, music cover, travelling, dan lain-lain.

Setiap video disimpen sesuai playlist.

Kamu juga bisa isi deskripsi di setiap playlist untuk menjelaskan tentang playlist tersebut.

4. Lengkapi Profil

YouTube ngasih fasilitas 'about' buat para penggunanya. Fasilitas ini bisa kamu manfaatin buat nulis deskripsi singkat tentang channel kamu.

Jangan lupa sisipin juga social media kamu supaya orang lain jadi lebih gampang buat ngenal kamu dari berbagai macam media. Misalnya Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain.

5. Share

Setelah semuanya selesai dan kamu udah upload video ke YouTube, tugas terkahir kamu adalah share link video itu. Kalau kamu punya social media, manfaatin semua social media kamu.

***

"Kamera apa yang paling cocok buat YouTuber pemula?"

Kamera yang paling keren dan paling mahal yang kamu sanggup beli.

Spesifikasi dan harga kamera itu nggak menjamin kualitas video kamu bagus. Kamera hp juga bisa kok buat recording. Serius.

"Aplikasi video editor apa yang paling cocok buat pemula?"

Semua aplikasi video editor yang paling gampang kamu kuasai. Karena secanggih-canggihnya software, yang bikin hasilnya jadi keren itu tetep brainware.

Menjadi YouTuber itu bukan masalah kamera dan video editor. Tapi tentang kreatifitas pembuat konten. Banyak lho YouTuber yang ngeditnya pake Adobe Premiere, tapi cuma mixing video orang lain demi reputasi dan kepentingan pribadi. Iya, itu YouTuber sampah.

***

Sebelum mengakhiri postingan ini, gue mau ngasih tahu satu fakta:

Ada banyak orang yang menjadi YouTuber di dunia ini. Tapi, nggak sedikit juga yang berhenti di 3-6 bulan pertama. Kenapa? Karena ngerasa sia-sia saat sadar bahwa jumlah views, like, comments, dan subscribers sedikit.

Kalau kamu mau menjadi YouTuber, hindari mengincar empat hal di atas. Jangan terlalu pentingin itu. Yang terpenting adalah terus membuat konten yang berkualitas.

Subscribe:
youtube.com/rakaprasetyaa
Read More

Perspective

Posted on 18.41.00 Tidak ada komentar:
- diary
"Yang jelas jangan pernah memainkan lampu senter dengan cepat, lampu senter itu dianggap undangan. Jangan berhenti menatap sekitar. Jangan makan keju, kotak tidak apa-apa. Jangan pakai topi sumbrero! Atau baju bodoh! Atau sepatu merah! Atau rok panjang! Jangan pernah! Selamanya jangan! Menari dan berteriak seperti kera!" - Indri, 05:38 WIB.

Ya, tadi pagi gue dapet chat yang isinya cuplikan dialog di film Spongebob. Gue juga nggak tahu si Indri kesurupan apa waktu ngirim chat itu. Mungkin, di pagi hari yang indah tadi, Indri bangun dan bad mood. Lalu ia bergumam, "Hmm.. lagi bad mood gini ngirimin chat horor ke orang lain enak juga kali ya?"

GUE BINGUNG WAKTU PERTAMA BACA CHAT ITU KAMPRET! GUE PIKIR KENA TEROR, EH PAS DIINGET-INGET TERNYATA SPONGEBOB EPISODE KEMPING BERUANG LAUT MELEDAK.

Huft banget.

First of all, lemme tell you the most ngeselin girl in the world:

Indriyati Siti Salamah (Instagram: @indriocess)

Belakangan ini gue lagi lumayan sering debat sama dia. Ngebahas banyak hal. Tadi pagi (setelah dia ngirim chat cuplikan dialog film Spongebob), gue nanya sama dia tentang gaya pacaran, lebih spesifiknya tentang 'definisi ngabarin pacar' karena kemarin gue baru aja berantem sama pacar gara-gara itu. HEHEHE.

Well, sedikit curhat. Jadi gue berantem sama pacar gara-gara gue nggak ngabarin dia selama tiga hari. Dan dia jadi ngerasa nggak dianggap sama gue. Dia bilang, "Kenapa harus selalu aku yang ngabarin duluan? Seolah-olah jadi enaknya di kamu doang." Ya kalau menurut dia ngabarin itu suatu beban, kenapa harus maksain buat ngabarin. Lagian meskipun gue nggak ngasih kabar, gue tetep inget sama dia. Gue nggak lupa kalau gue punya pacar. Cuma ya, gue ngerasa nggak perlu aja ngasih kabar kalau emang nggak ada yang penting.

Maksudnya, ngapain ngasih kabar kalau cuma "Aku lagi main nih, kamu lagi apa? Udah makan? Udah mandi? Udah minum obat cacingnya?" sebuah pertanyaan yang jawabannya juga masih gitu-gitu aja. Gini lho, kalau ada sesuatu, gue juga pasti ngasih tahu. Misalkan kalau gue sakit, kecelakaan, atau apalah gitu. Kalau nggak ada apa-apa, ya apa yang harus dikabarin? Gue juga bukan tipe orang yang ngerasa bahwa pertanyaan "udah makan belum?" itu harus ditanyain setiap hari. Ya semua orang waras juga tahu kalau laper itu harus makan. Nggak usah lah nungguin ditanya sama pacar baru makan. Mana ada orang yang laper banget, tapi bingung harus ngapain, dan baru inget harus makan ketika diingetin? Kebayang aja gitu.

"Aduh.. perut sakit banget nih. Kayaknya aku laper. Tapi harus ngapain, ya Allah?"

KAN ENGGAK GITU.

Jadi, menurut gue, selalu nanya "udah makan belum?" itu nggak bisa dijadiin patokan sebagai bukti kasih sayang.

Balik lagi ke masalah ngabarin. Gue bingung. Ngabarin yang menunjukan bukti sayang itu kayak gimana sih. Ngabarin yang bikin seseorang dianggap sama pacarnya itu kayak gimana? Apakah setiap beberapa jam sekali kita laporan lagi ngapain, di mana, sama siapa, itu contoh ngabarin yang bikin seseorang merasa dianggap sebagai sosok pacar? Apakah ngabarin itu sebegitu pentingnya sampe bikin seseorang pengin selalu dapet kabar dari pacarnya?

Gue ganti DP di BBM. Gue update status di BBM. Tanpa gue ngasih kabar pun, semua orang udah tahu kalau gue masih sempet ganti DP dan update status, berarti gue masih hidup. Dan kalau gue ganti DP sama update status yang normal-normal aja, berarti gue juga baik-baik aja.

Gue butuh seseorang yang tanpa gue kabarin seharian pun, bisa percaya kalau gue nggak lakuin yang aneh-aneh. Bisa ngerti kalau gue baik-baik aja. Gue bukan anak SMP yang gaya pacarannya harus chatting setiap hari, tapi isi obrolannya nggak terlalu penting untuk dibahas. Lagian kalaupun dia ngabarin duluan, misal mau curhat atau apalah gitu, gue tetep respons. Gue nggak merasa terganggu. Gue cuma bingung aja kalau mau ngabarin duluan ketika gue nggak punya kabar penting yang harus dikabarin.

Dia sempet bilang, "Kamu jadi keenakan, nggak ngabarin selama tiga hari. Kayaknya sebelum aku sakit, kamu nggak akan nyariin aku."

Hey, please grow up. Berpikir dewasa. Kalau dia sakit, apa perlu nunggu gue nanyain kabarnya baru dia bilang bahwa dia lagi sakit? Apa perlu gue nanya duluan baru dia bilang? Apa nggak bisa dia inisiatif bilang bahwa dia lagi sakit tanpa perlu gue nanya dulu? Jadi, sebenernya gue yang keenakan atau dia yang ribet?

Waktu gue ditabrak motor bulan kemarin, gue ngabarin dia tanpa nunggu dia nanya dulu. Gue juga maunya dia kayak gitu. Ngasih kabar ketika memang ada yang perlu dikabarin, nggak usah ngasih kabar kalau memang nggak ada kabar penting.

Satu hal lagi, gue ngerasa nggak perlu nyari tahu kabar dia, karena ketika dia ada sesuatu yang memang perlu gue tahu, dia bakal ngasih tahu tanpa gue nanya dulu. Toh gue juga kayak gitu. Dia nggak perlu nyari tahu kabar gue, karena ketika ada sesuatu yang penting dari gue (dan gue rasa dia harus tahu), gue akan kasih tahu dia meskipun dia nggak nanya.

Sekarang pertanyaannya: kalau gue nggak ada kabar penting apapun, apa yang harus gue kabarin? Harga rokok nggak jadi naik karena itu cuma gossip? Ya kali.

Waktu gue nanya Indri, dia jawab gini:

Thats what I mean, bruh!

Tapi ya udah lah ya, terlepas dari gue yang terlalu egois atau dia yang terlalu ribet (bagi gue), mungkin semua ini cuma masalah perspective.

Cara gue nggak cocok sama dia, dan cara dia juga nggak cocok sama gue. Jadinya berantakan. Tapi dia nggak salah kok. Ya emang udah dasarnya beda paham sama gue aja.

Bukankah semua orang punya sudut pandangnya masing-masing, bu guru?

***

Anyway, guys, some update. Gue udah ketemu sama Tsaqif. Waktu gue ke pesantren dia, sekitar jam sembilan malem, Tsaqif lagi duduk di teras rumah orang, nunduk, kucel, dan nggak pake sandal. Gue hampir sulit mengenali identitas anak ini untuk beberapa saat. Tadinya gue pikir dia ini anak hilang yang ditemukan warga pesantren. Ya, maafkan.

"Kenapa nggak pake sandal?" tanya gue.

"Sering ilang. Sandal yang kemarin-kemarin juga ilang."

"Kok bisa ilang?"

"Soalnya diambil kakak kelas."

"LAH ITU MAH BUKAN ILANG!"

Tsaqif malah cengengesan.

"Terus kamu nggak bilang ke kakak kelas kamu, kalau itu sandal punya kamu?" tanya gue lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

"Udah nyoba. Tapi kakak kelasnya bilang itu sandal dapet nemu."

BIJI MATAMU NEMU.

"Tapi kemarin udah dimarahin sama ibu, kakak kelasnya langsung nurut. Sekarang sandalnya udah ada di Tsaqif, tapi cuma dipake kalau mau ke rumah Aki." kata Tsaqif melanjutkan, "Kalau masih di daerah pesantren mending nggak dipake. Nanti ilang lagi ah. Hehehe."

"Terus selain sandal, apa lagi yang sering ilang?"

"Baju."

"Baju?"

"Iya, baju."

"Kok bisa?"

Tsaqif narik napas panjang sebelum menjelaskan, "Jadi gini, kan jemuran itu digantung di luar, terus kakak kelas suka ngambilin jemuran. Nah pas Tsaqif tagih, kakak kelasnya bilang itu baju dapet nemu. Jadi itu milik kakak kelas."

"Kok nggak kamu ambil?"

"Bisa diambil. Tapi harus nebus."

"Nebus?"

"Iya, nebus."

"Berapa?"

"Dua ribu per baju."

What the fak.

Sebagai kakak, gue merekomendasikan hal yang seharusnya dia lakukan, "Kalau gitu, kamu ambilin aja semua jemuran yang ada. Satu baju dibayar dua ribu, lima baju udah sepuluh ribu. Coba kalau sehari kamu bisa ambil 100 baju? Bayangkan, berapa gelas cendol yang bisa kamu borong dengan uang sebanyak itu?"

Nggak lah. Bercanda.

Gue bilang, "Kalau ada kakak kelas yang kayak gitu lagi, pukul aja kepalanya. Pake tangan kosong tapi."

Lagi-lagi, Tsaqif malah cengengesan.

"LAH MALAH KETAWA! INI SERIUS BUKAN BERCANDA!"

"Ya abisnya gimana lagi dong.."

"Ya makanya, kalau ada yang kayak gitu lagi, pukul aja."

Gue jadi heran. Itu pesantren yang ngedidiknya siapa ya. Kok bisa-bisanya ada tragedi pencurian sandal dan baju. Apalagi yang nyurinya itu kakak kelas. Sangat tidak mencerminkan sikap senioritas. Masalahnya, gue jadi takut kalau nanti adik gue udah tingkat atas, dia juga bakal nyuri barang-barang milik adik kelasnya. Bukan mencontoh, tapi lebih ke 'pelampiasan' sebagai pembalasan. Parah men.

Tsaqif, si manusia siluman tanah.

Gue nyuruh Tsaqif buat pukul kakak kelasnya, karena guru pesantrennya sendiri nggak bisa diandelin. Kalau yang mendidiknya nggak bisa jadi penjaga, pada siapa lagi adik gue mau minta pembelaan dan pertolongan? Diri sendiri. Gue nyuruh Tsaqif buat mukul kakak kelasnya juga bukan supaya dia jadi preman. Tapi supaya kakak kelasnya ngerti, bahwa mencuri itu salah. Kalau udah nggak bisa dijelasin secara omongan, ya mungkin emang harus nyoba dikasih pukulan.

Pesan moral dari pertemuan dengan Tsaqif malam itu:

Kalau kamu nggak jago berantem, minimal jago jagain jemuran.

***

PS:

Ada video baru di YouTube Channel gue, "Where Are U Now - Justin Bieber ft Jack U (Skrillex & Diplo)" inspired by the original music video!

Ini link-nya: https://youtu.be/D6AnGvvmUhw

Have you subscribe my channel?
Read More

Bisa Bahasa Hewan

Posted on 03.25.00 1 komentar:
- article
Gue pengin banget bisa berkomunikasi dengan hewan. Entah gue yang jadi bisa bicara bahasa hewan, atau hewan yang jadi bisa bicara bahasa manusia. Eh tapi ngeri juga ya kalau hewan bisa bicara bahasa manusia. Kebayang aja misalnya gue lagi liatin aquarium buat ngilangin stres, terus ada lele yang ngomong ke gue, "Apaan lu liat-liat? Dari tadi ngeliatin mulu. Ngajak ribut lu? Berani sama gue? Sini lu nyebur kalau berani!" Kan nggak enak. Niat ngilangin stres malah jadi berantem. Sama lele. INI GUE NGOMONG APAAN SIH.

Wah, ada ikan berkepala lele!

But seriously, gue pengin banget bisa berkomunikasi sama hewan. Tapi berhubung kurang enak kalau hewan ngedadak bisa bahasa manusia, mending gue aja yang bisa bahasa hewan. Atau mending telepati deh. Jadi pas ngobrol sama hewan, gue nggak dianggap gila sama orang sekitar.

Gue pengin banget bisa ngobrol sama hewan, soalnya ada beberapa hewan yang pengin gue tanya tujuan hidupnya. Gue urutkan dari yang paling ngeselin:

1. Kucing

Kalau kamu sering naik motor, gue yakin kamu juga punya kekesalan yang sama seperti gue. Pernah nggak lagi enak-enaknya nyetir, tiba-tiba ada kucing nyeberang dengan santainya pas posisi motor kita sama si kucing belagu itu udah deket? Gue sering.

Kejadian yang paling ngeselin itu pas lagi malem-malem, di sekitaran Cimindi. Gue lagi asik-asiknya ngendarain motor karena jalanan agak sepi malem itu. Seperti pemuda yang kebanyakan nonton MotoGP pada umumnya, gue ngegas full karena jalannya lurus, mulus, dan sepi. Nah, pas lagi ngebut, tiba-tiba ada kucing nyeberang tanpa nengok kanan-kiri terlebih dahulu. Si kampret itu jalan aja santai kayak berasa bahwa dunia ini milik kakeknya dia. Kayak seolah-olah kalau ada manusia lagi ngebut bawa motor, terus dia mau nyeberang jalan dengan kalem itu adalah sesuatu yang wajar. Dat cat think its a normal. BIJI MATAMU NORMAL! Untung gue sempet ngerem.

Kalau aja gue bisa biacara bahasa hewan, udah gue tanya tuh kucing sebagai perwakilan dari bangsa mereka. Pertanyaan pertama yang bakal gue lontarkan ke si kampret adalah:

"Eh, nyet, faedah hidup lu apaan sih?"

Lalu diikuti dengan, "Gue ngerti ini jalan umum, tapi lu nggak bisa nyeberang jalan seenak udel gitu. Lu pikir dengan nyeberang jalan sesantai itu, lu merasa ganteng?"

Dan pertanyaan penutup, "Satu hal lagi, yang bikin gue heran dari zaman cuma bisa nyetir motor matic sampe bisa motor kupling, kenapa pas gue masih jauh lu diem, tapi pas jarak kita udah deket lu baru nyeberang? Lu mau gue giles jadi adonan cireng?"

Lagian apa sih masalah mereka sama manusia? Kok sampe segitunya. Nyeberang jalan sembarangan. Mereka tuh galau atau kenapa ya? Mungkin kurikulum Indonesia harus diganti. Untuk menjadi anak yang baik dan berbakti nggak harus menyeberangkan nenek-nenek, tapi menyeberangkan kucing.

2. Semut

Hewan yang satu ini, entah kenapa, mereka harus tercipta dengan bentuk fisik yang kecil, item, item banget, dan kalau ngeliat mereka ngerayap di gelas minum gue bawaannya pengin ngebom itu gelas sampe ancur berkeping-keping.

Kenapa ya, semut itu suka asal embat milik orang lain? Udah paling kesel kalau gue lagi minum, terus keasikan baca atau main hp, terus pas mau minum lagi, tiba-tiba ada semut di lidah. Dan ngigit. Kampret level dajjal. Masalahnya ya karena mereka kecil, jadinya nggak keliatan. Apalagi kalau di gelas kopi. Udah kayak menyatu aja tuh si udel naga sama air kopinya. Selain semut, pernah sih ada hewan lain yang nyebur ke gelas kopi gue. Cicak. Iya agak absurd emang ada cicak jatuh ke gelas kopi. Mungkin awalnya itu cicak iseng-iseng nyobain lompat buat ngetes apakah dia bisa terbang atau enggak.

*ilustrasi*

Cicak: "Lagi bad mood gini enaknya ngapain ya? Hmm.. nyobain terbang kayaknya seru juga."

Kemudian si kampret loncat beneran.

*backsound: I believe I can fly~*

Ternyata, dia nggak bisa terbang. Sebagai cicak, dia pasti merasa gagal.

Dan akhirnya dia terjun ke gelas kopi gue. Lalu hidupnya berakhir dengan pasrah menerima kenyataan bahwa dia adalah seekor cicak yang tidak bisa terbang. Oke, sebelum semakin absurd, kita sudahi khayalan ini dan balik lagi ke pembahasan.

Nah, waktu gue tahu ada cicak nyebur ke gelas kopi, gue buru-buru teriak manggil nyokap, "Buuu.. ini makanan Tsaqif kenapa ada di sini?"

Tapi mending cicak yang nyebur ke gelas kopi gue. Dia keliatan dengan jelas. Lah kalau semut? Makanya pengin banget gue nanya gini ke semut:

"Woy, jigong buaya, lu ngapain di gelas kopi gue? Lu pikir ini wahana pemandian air panas?"

Atau kalau semutnya terlanjur nempel di lidah karena nggak keliatan waktu gue mau minum, "Eh, daki badak, lu ngapain nempel-nempel di lidah gue? Lu pikir ini.. aarrgghhh!!"

Gue keburu digigit sama si kampret.

3. Kecoa

Tanpa perlu gue jelasin alasannya, kayaknya kalian juga udah pada ngerti lah ya. Hewan yang satu ini memang lumayan menganggu dan ngeselin. Actually, gue nggak takut sama kecoa. Cuma geli. Apalagi ketika mereka terbang. Iya, gue lebih males ngeliat kecoa terbang daripada chat dari mantan.

Masalahnya gini lho, gue nggak paham kenapa hewan ini hobi banget gangguin moment-moment asik. Lokasinya juga random parah. Kadang muncul di kamar, kadang di ruang tamu, bahkan kadang di teras rumah. Tapi di manapun tempatnya, tetep aja kehadiran mereka itu bisa bikin panik sepanik-paniknya orang panik. Nggak banyak yang pengi gue tanya ke mereka. Cuma satu pertanyaan:

"Kenapa sih, lu suka nggak mau diem? Padahal mah diem aja di sudut ruangan. Nggak usah terbang ke sana-sini. Caper banget. Apalagi sampe ngerayap ke kaki. Meskipun gue pake celana, tetep aja geli. Lu nggak punya tempat main yang lebih luas selain rumah gue?"

Sampe pernah satu waktu, saking keselnya digangguin kecoa mulu, gue tangkep kecoa itu pake plastik (tentunya setelah gue ngos-ngosan lebih dari 20 menit), terus gue iket plastiknya, dan gue buang ke luar rumah tanpa ngebuka dulu iketannya. Ya, biarin aja dia terkurung di dalam plastik. Supaya dia tahu bahwa karma itu memang ada.

Karma itu pedih, jenderal!

4. Soang

Oke, sebelumnya gue mau minta maaf kalau Bahasa Indonesia gue agak payah. Soalnya gue nggak tahu soang itu dalam bahasa indonesia sebutannya apaan. Gue tanya-tanya sih katanya angsa. Tapi setahu gue, angsa itu yang warna putih dan ukurannya lebih gede daripada bebek. Nah kalau soang yang gue maksud di sini, ukurannya masih sama kayak bebek. Cuma bulu mereka warna putih, dan suaranya kayak klakson motor yang akinya mau abis.

Gue nggak ngerti sama faedah unggas yang satu ini ketika mereka ngejar-ngejar orang yang nggak salah apa-apa. Dulu, waktu kelas 4 SD, gue sempat pindah sekolah ke Tanjungsari. Sekolahnya di perkampungan gitu. Penduduknya juga kebanyakan peternak. Ada yang ternak kambing, sapi, ayam, sampe soang. Dan, khusus hewan ternak unggas, sering dibiarin bebas gitu aja kalau siang hari. Itu dia masalahnya. Gue pernah waktu mau berangkat sekolah, dikejar-kejar soang tanpa tahu apa salah gue sama mereka. Jujur, rasanya bener-bener tegang. Kayak dikejar anjing!

Gue pengin banget nanya gini:

"MASALAH KALIAN SAMA GUE APA SIH? GUE KAN CUMA LEWAT! GUE NGGAK BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, NGGAK NYURI TELUR KALIAN, DAN GUE JUGA NGGAK NGACUNGIN JARI TENGAH KE KALIAN! KENAPA KALIAN NGEJAR-NGEJAR GUE, KAMPRET?!"

Lebih kampretnya lagi, soang kalau ngejar suka keroyokan. Bapuk sekali memang.

5. Monyet

Terakhir, yang menurut gue suka bikin kesel dan pengin gue tanya tujuan hidupnya itu adalah monyet. Iya, mereka yang suka datang pas ada butuhnya sama kita, tapi pas giliran kita butuh, mereka malah menghilang seakan nggak pernah kenal. Kan monyet.

Gue pengin nanya gini ke si monyet-monyet kampret:

"Waktu lu butuh, gue selalu berusaha ada. Lah giliran gue yang butuh, lu ke mana? Lupa temen ya? Atau emang cuma temen pas ada butuhnya doang? Monyet banget."

Gitu.

Lagian ya, anjing aja bisa setia dalam keadaan susah maupun senang, masa si monyet-monyet ini cuma ngakuin status teman pas ada butuhnya doang?

Tapi ya, sengeselin-ngeselinnya sikap hewan, masih lebih ngeselin lagi ketika ada orang yang bersikap kayak hewan.

Huft banget.
Read More

Banyak Tugas

Posted on 15.15.00 Tidak ada komentar:
- daily
Some update, teman-teman. Tsaqif udah nggak tinggal di rumah lagi. Nggak, dia nggak diusir karena ketahuan lagi telanjang berduaan di kamar sama pembantu sebelah rumah. Tapi Tsaqif pindah ke Cililin karena ikut pesantren. Dan bukan, dia bukan dimasukin pesantren gara-gara ketahuan lagi telanjang berduaan di kamar sama pembantu sebelah rumah. Tapi sama pembantu yang di belakang rumah.

YA ENGGAK LAH! BERCANDA GUE HEHEHE. :(

Tsaqif pesantren karena kemauan dia sendiri. FYI, dia nilai sekolahnya bagus-bagus. Tapi nggak mau masuk sekolah negeri. Dia pengin masuk sekolah swasta yang di deket rumah. Ya, mungkin ini quote favorit dia semenjak lulus dari SD:
So deep, bruh. Its so deep.

Tsaqif bilang sih, dia pengin sekolah di yang deket rumah biar pas jam istirahat bisa pulang (bukan buat ketemuan sama pembantu di sebelah rumah). Tapi nyokap berkehendak lain. Nyokap gue merekomendasikan Tsaqif untuk pesantren. Karena menurut nyokap gue, pesantren adalah habitat yang paling tepat untuk memberdayakan Tsaqif. Ya, good bye, my little brother from planet Mars! Semoga betah di lingkungan baru. Jaga diri baik-baik, jangan banyak main, dan jangan suka pegang pantat om-om lagi. Itu tidak baik.

Well actually, Tsaqif udah lama di pesantren. Udah dari bulan kemarin. Tapi sampe gue nulis postingan ini, gue belum sempet buat longokin dia. Bukan masalah waktu, tapi karena emang belum ada kabar dari pihak pesantren bahwa ada om-om yang komplen karena bokongnya digerepe seorang bocah. Kalau udah ada kabar kayak gitu, barulah gue ke sana. Buat ngasih salep ke om-om yang udah digerepe supaya bokongnya nggak infeksi.

Tapi nanti gue pasti ke pesantren Tsaqif. Soalnya gue dapet tagihan ini:

Satu pertanyaan, "ANAK PESANTREN MINTA GEMBOK TIGA BIJI BUAT APAAA?!"

Tsaqif... semakin hari kamu semakin random saja.

***

Well, gue mau nulis apaan ya. Too many story dat I wanna to share to all of you guys. But, lemme start it with:

KEPALA GUE MAU MELEDAK ANJIR.

Parah. Nggak cuma banyak hal yang mau gue ceritain, tapi ada banyak hal juga yang bikin kepala gue mau meledak akhir-akhir ini. Ditambah lagi, sebagian besar project gue tertunda gara-gara banyak tugas. Misalnya aja Draw Story episode 2. Selain gue sibuk nyari solusi gimana caranya ngegambar yang bagus pake jempol di smartphone, gue juga belum bisa nyelesain alur cerita buat dikasiin ke Anjani (yang dubbing). Dan karena lagi banyak tugas, alhasil nggak punya waktu buat ngegambar. Sekalinya ada waktu, harus dipake buat beresin tugas lain.

Oh iya, kemarin siang gue ke tempat percetakan di daerah Pagarsih. Di sana ada salah satu toko yang nyediain jasa pembuatan logo dan banner gitu. Gue sempet liatin salah satu karyawan yang lagi bikin logo pake Corel Draw. Jago banget. Dia nge-design tanpa banyak mikir. Tangannya bener-bener gesit. ITU TANGAN APA RUDAL?! Ngebut banget! Gue sampe bengong ngeliatin dia nge-design. Untungnya dia pake Corel Draw. Coba pake Adobe Illustrator. Mungkin gue nggak akan inget waktu dan bakal betah berdiri selama berjam-jam sebelum diusir yang punya toko karena cuma liatin tanpa beli apa-apa. HEHE.

Sialnya pas gue poto, pas bagian dia buka google dan lagi loading. Fak.

Contoh project tertunda gue yang lainnya: vlog di YouTube. Iya, rencananya gue mau bikin vlog ke tiga. Gue udah nulis konsep garis besarnya di note, bahkan udah ngobrol sama orang-orang yang mau featuring (Kiki Adrian dan Miranti Dewi). Tapi karena masalah waktu, gue selalu nggak sempet buat recording. Mereka juga mungkin udah keburu kesel nungguinnya. Hehehe. MAAFIN GUE LAH KAMPRET! :(

Kayaknya gue harus bener-bener belajar manage waktu. Ini aja gue kemarin mau ganti template blog harus bela-belain begadang. Empat jam cuma buat ngulik HTML. Sadis.

***

Anyway, guys, di akhir bulan Juli kemarin gue sempet main ke Warisan Kopi, salah satu kedai kopi yang tempatnya asik banget, apalagi kalau kita nongkrongnya sore-sore jam bubaran sekolah anak SMA. Soalnya di deket kedai Warisan Kopi ada sekolah gitu. Jadi kalau nongkrong di jam bubaran sekolah, kita bisa ngopi sambil ngecengin dede-dede gemes. Oke, ini nongkrong modus sih.

Tapi serius, tempatnya emang asik banget buat nongkrong.

Mulai dari konsep tempat duduknya, gambar dindingnya, colokan buat ngecas hp dan laptop-nya, sampe dede gemes pemandangannya, semua itu bikin suasana ngopi jadi lebih santai dan adem. Ditambah lagi, di Warisan Kopi semua orang bisa belajar jadi barista. Ya, semua orang boleh nyobain bikin kopi sendiri. Sungguh fasilitas yang luar biasa dan sangat brilian! Jadi kalau kamu nyobain bikin kopi sendiri tapi rasanya malah kayak air kobokan warteg, otomatis kamu bakalan beli lagi dan minta dibikinin sama barista dong? Dan otomatis kamu bakal bayar dua gelas kopi. Brilian, bukan?

Menyinggung sedikit soal kopi, gue termasuk orang yang suka minum kopi. Tapi kopi sachet yang bisa beli satuan. Biar murah (HEHEHE) dan bisa gue bikin kapanpun gue mau. Cara bikinnya juga gampang. Tinggal siapin gelas dan air panas, masukin kopi ke gelas, tambah air panas, lalu aduk pake bungkusnya. Iya, gue kalau bikin kopi suka ngaduk pake bungkusnya. Kalau kamu punya temen yang suka bikin kopi ngaduknya pake bungkus kopi, temen kamu punya talenta sebagai barista.

Ngomong-ngomong, barista itu apaan sih?

Ehm. Sekadar saran dari gue, buat kamu-kamu yang masih cemen dalam dunia perkopian dan mau nyoba bikin kopi sendiri, kalau bikin kopi (terutama kopi sachet) airnya jangan banyak-banyak. Nanti kayak gini:

Ya elah. Berat banget hidup yang bikin meme ini.

Oh iya, mumpung gue lagi inget, mau ngasih info aja bahwa sebentar lagi Warisan Kopi (bareng beberapa merchant-nya) mau launching Member Card. Siapapun yang udah gabung jadi member dan punya kartunya, bisa dapet diskon di setiap merchant Warisan Kopi. Gabung jadi membernya juga gampang banget dan gratis (baca: GRATIS!) tanpa biaya apapun. Untuk info lebih lanjut bisa cek di Instagram: @warisankopi.

Nanti kalau udah launching, gue juga mau bikin member card ah. Siapa tahu besok-besok merchant Warisan Kopi ada toko bangunan. Kan lumayan, bisa dapet diskon beli gembok buat Tsaqif.

Eh tapi, beli gembok di toko bangunan bukan sih?
Read More

Android Beta Tester

Posted on 07.07.00 Tidak ada komentar:
- tech
Barangkali ada yang belum tahu, beberapa waktu lalu Google bikin terobosan 'Beta Tester' bareng beberapa perusahaan pengembang aplikasi Android. Satu hal yang menurut gue keren dari project beta tester ini adalah: Google mengajak para pengguna smartphone Android untuk menjadi bagian dari beta tester. Ya, kalau kamu punya smartphone Android, kamu bisa gabung menjadi beta tester. Gratis!

Instagram open beta tester for user!

So, apa itu Beta Tester?

Beta Tester adalah suatu project di mana kita (pengguna smartphone Android) bisa nyobain fitur terbaru dari pembaruan aplikasi yang tersedia di Play Store, sebelum aplikasi itu siap 'go public' (bisa diunduh oleh umum). Singkatnya, para beta tester adalah orang-orang yang pertama kali nyobain fitur terbaru sebelum fitur tersebut bisa dicobain sama orang lain.

Apa keuntungan jadi Beta Tester?

Keuntungan yang paling jelas sih, ya bisa nyobain fitur terbaru dari suatu aplikasi ketika ada update, sebelum orang lain bisa nyobain fitur tersebut. Keuntungan lainnya, bisa pamer ke temen-temen karena aplikasi kamu dapet update lebih dulu. Hehehe. Tapi supaya adil, selain ada keuntungan, harus ada juga kerugian.

Apa kerugian jadi Beta Tester?

Ya sesuai namanya 'Beta Tester' (penguji versi beta), berarti kita pake aplikasi yang masih versi beta dari update terbarunya. Dan mayoritas versi beta itu masih banyak bugs atau gangguan. Sejauh ini, kerugian yang paling sering gue alami selama nyobain aplikasi versi beta cuma satu: force close. Ya, aplikasinya kadang tiba-tiba berhenti dan ketutup sendiri. Tapi nggak sering kok. Cuma kadang-kadang aja. Selebihnya berjalan lancar.

Gimana cara jadi Beta Tester?

Gampang banget. Caranya tinggal buka Play Store, klik aplikasi yang mau dicoba, gulir ke bawah, terus klik gabung sebagai beta tester. Tapi, nggak semua aplikasi punya fitur ini. Cuma beberapa aja kayak Instagram, Snapchat, dll. Biasanya sih aplikasi-aplikasi yang sering update dalam waktu dekat.

Nggak, gue nggak install Snapchat, btw.

Perlu nggak sih jadi Beta Tester?

Relatif. Tapi yang jelas project beta tester ini sangat berguna buat kamu-kamu yang suka bikin review dan terobosan apps. Jadi ketika kamu lagi bikin postingan review atau terobosan, kamu bisa sambil nyobain fitur dari aplikasi yang kamu bahas. Selain buat yang suka bikin review dan terobosan, Beta Tester juga cocok buat kamu-kamu yang udah nggak sabar karena saking penasarannya sama fitur terbaru dari suatu aplikasi.

Kalau kamu ikutan jadi Beta Tester, nanti di tab My Apps - Beta bakal ada daftar aplikasi yang kamu ikutin. Oke, gue nggak tahu apa fungsinya tab ini, tapi kayaknya cukup penting karena Google bikin tab ini nggak iseng-iseng doang.

Kalau menurut gue sih, fungsinya cuma satu: jadi filter buat list apps yang kamu ikutan sebagai beta tester-nya.

Well, segitu aja sih yang bisa gue share tentang Beta Tester, semoga bermanfaat buat temen-temen yang pake smartphone Android.

***

Ps:

Iya, gue baru aja re-design tampilan blog. Template yang gue pake sekarang buatan Sandpatrol. Hohoho.
Read More

Jangan Takut Kehilangan

Posted on 11.40.00 Tidak ada komentar:
- mailtime
Ada yang menganggu pikiran gue (dan kenapa juga gue pikirin) tadi malem. Semuanya berawal waktu gue ngeliat event Photo Contest by MPM Cafe & Shisha. Di event tersebut, MPM ngadain acara kontes selfie berhadiah free shisha, di mana kita ditantang untuk selfie ngikutin ekspresi Mondy (salah satu crew MPM) yang mukanya kayak knalpot mio bobokan.

Nah, waktu ngeliat poto itu, gue baru sadar bahwa nama asli dia bukan Mondy. Tapi Rizwan. Usut punya usut, ternyata Mondy itu nama panggilan dia. Sejarahnya, pada suatu malam si Rizwan pengin punya nama panggilan ala western kayak crew yang lain, misalnya Heru jadi Karjon. Atau Ryan jadi Koye.

Ini dia yang menganggu pikiran gue. Kenapa nama panggilan mereka jauh banget sama nama aslinya? Heru jadi Karjon. Ryan jadi Koye. Rizwan jadi Mondy. Dan setelah gue pikir-pikir (yang emang nggak ada kerjaan banget mikirin beginian), ternyata banyak juga temen-temen gue yang punya nama panggilan tapi jauh sama nama aslinya. Misalnya, temen gue waktu SMP punya nama asli Restu, tapi panggilannya Ochol. Atau temen gue waktu SMA punya nama asli Irvan, tapi panggilannya Baot. Ada juga Chandra jadi Cuwaw. Atau yang lebih nggak nyambung banget, nama aslinya Tomy tapi panggilannya Rendy. WTF?

Yea I think theres something wrong with their nickname.

Maksud gue, nama panggilan itu harusnya nggak jauh beda sama nama asli. Bahkan yang lebih bagus itu kependekan dari nama asli, atau singkatan dari nama lengkap. Misalnya kayak temen gue namanya Maria Crispina, dipanggilnya Ina. Atau Tita Wulansari, dipanggilnya Tiwul. Nyambung dan logis.

Atau kalau enggak diambil dari nama lengkap, minimal dari fisik. Kayak temen gue misalnya, nama aslinya Rizky, tapi karena dia gendut, dipanggilnya jadi Ndut. Atau temen gue yang lainnya, nama aslinya Galih, tapi karena kulitnya hitam, dipanggilnya jadi Black. Iya, emang ada unsur majas menghina di dalam nama panggilan mereka. Tapi tetep masuk akal dan nyambung.

Masalahnya bukan kenapa-kenapa sih, cuma kalau ada temen baru dan dia tahunya nama panggilan kita, lalu suatu saat dia nanya nama asli, pasti bakal dimengerti kalau nama panggilan dan nama asli kita masih nyambung. Coba kalau beda jauh? Mereka pasti bingung.

Gue sendiri, nama asli gue Raka. Nama panggilan dari nyokap dan temen-temen rumah waktu kecil gue: Aka. Lalu sedikit diplesetin sama om gue, jadinya Akew. Terus karena gue kurus, temen-temen di SMP manggil gue Cacing. Fine, gue emang kurus tapi nggak setipis cacing juga sih. But whatever lah, intinya tetep nyambung.

Overall, sekarang pertanyaan gue, kenapa banyak banget cewek yang nama aslinya Annisa, tapi dipanggilnya jadi Icha? ITU HURUF 'C' DAN 'H' DARI MANA?!

Oke, lupakan soal Icha.

***

Anyway, gue dapet curhatan kemarin siang.

Dari: Erdina P
Email: erdinxxx@yahoo.com

"hai siang kaak , btw gue liet blog nya ka raka bisa buat curhat2 gt ye? sekalian kalo boleh gue pgn curhat ka sama minta pendapat ato saran aja si , sptw idup gue jd lebih tenang ntar muehehee. lgsng aja ya kaak cekidot

alkisah gue punya seorang makhluk astral yg namanya mantan :D duluuu kita jalin asmara si cm bentar ya 4 blnan la. trs skrg si kt udh putus sktr 3 bulan ini tp gue masih kepikiraan mulu sama dia tiap hari. pikiran ini tuh nyiksa gue bgt kaak ya gue si juiur aja masih sayang sama dia kaak, tp gue sadar diri posisi gue skrg apa trs palagi skrg dia uda pnya pacar baru gt. nah kita dulu kan temenan gt di sosmed semacam BBM ama line la dia kadang masih contact gue sekedar nanyain lg dimana? atau nanyain kabar gt. kmren terakhir dia contact gue dia bilang kalo gue tu sombong kaa sama dia skrg ... ya gue hrs gimana coba? pinginnya sih gue ngontak dia trus tp skali lagi gue sadar posisi gue apa , dan dia juga udah punya manusia lain skrg kan?

but now gue ngrasain sesuatu yg namanya takut kehilangan yaa wlpun scara teoritis gue emang udh kehilangan dia tp secara psikis *ini ngomong apaan :D

kan gue masih temenan kaan. masalahnya apa coba kaak? di line gue, contact dia tu gaada, trus bekas chat line gue ama dia jadi 'ruang kosong' gt, gue cari id line dia juga tidak ditemukan... itu artinya apa ya kaak? apa dia ngeblock gue ato gimana? trus ya BBM dia tu 4 hari ini gaada aktivitas samasekali .. gue jadi negatif thinking  kalo dia ganti pin BBM , ganti akun line jg dan gue diabaikan begitu saja,trus gamau temenan lagi ama gue kaak :( gue udh bilang kan tadi kaak kalo gue masih sayang sama dia , ya wlopun udh bukan milik gue lagi tp gue pgn ttp temenan ama dia kaak, setidaknya masih ada komunikasi yg terjalin walopun cuma temen,krn dulu kita putus juga baik-baik dan sepakat buat temenan gt, seriusan gue galau bgt kaak bahkan sampai detik ini padahal udh 3 bulan putus, wajar ga sih kaak kalo gue masih stuck di dia, takut kehilangan dia karna gue masih sayang. gue udh kehilangan dia secara fisik tp gue gamau BENERBENER kehilangan dia dgn cara kaya gini, masa iya gue udh gabisa say hay lagi walopun lewat sosmed? minta pendapat apa yg harus gue lakuin sekarang kl keadaanya udh gini coba kaak? mohon di jawab yaa
sekian dari gue kaak, semoga curhatan gue bisa dimengerti walopun curhatan gue amburadul :D gue tunggu saran2 terbaik dari ka raka, btw thanks sebelumnya kaa, wassalam :)"

Halo, Erdina. Panjang betul ceritamu. Apalagi versi aslinya (yang di atas gue edit dikit) setiap kata sehabis tanda baca koma nggak pake spasi, dan setiap paragraf baru nggak ada jaraknya. Gue bacanya aja sampe pusing punya pala. Next time kalau mau kirim-kirim curhatan lagi pake spasi dan jarak ya. Hohoho.

Btw, cara ngetik lo ngingetin gue sama seseorang di beberapa tahun yang lalu, dan cerita lo juga hampir mirip sama dia. Terima kasih, Erdina, sudah membuka ingatan lama yang pernah gue coba untuk lupakan. Sekali lagi, terima kasih.

Well, setelah gue baca dan pahami, sebenernya inti masalah lo itu cuma satu: belum bisa move on meskipun putusnya udah tiga bulan lebih. Tahu kenapa lo belum bisa move on dari dia? Ya karena selama tiga bulan sejak putus itu, lo masih kontakan akrab sama mantan lo. Bukan, gue bukan bilang bahwa untuk move on itu harus berhenti kontakan. Tapi, maksud gue kalau kontakannya masih 'akrab' apalagi ada unsur perhatian-perhatiannya, lo pasti bakalan agak susah buat move on. Karena lo masih ngerasain nyaman sama dia, meskipun sedikit.

Salah nggak sih kalau masih kontakan akrab sama mantan padahal udah lama putus? Enggak. Yang salah itu kalau masih kontakan akrab sama mantan tapi dia udah punya pacar lagi. Ada dua hal. Pertama, kalau lo yang ngedeketin duluan, berarti lo sama aja berusaha merusak hubungan orang. Kedua, kalau dia yang ngedeketin duluan, berarti lo kurang kerjaan ngeladenin tukang mainin perasaan. Ya, udah punya pacar tapi masih perhatian sama mantan, bukankah itu tukang mainin perasaan?

Salah nggak sih kalau temenan sama mantan? Enggak. Justru bagus banget. Karena nggak memutuskan pertemanan. Tapi, temen yang kayak gimana dulu? Kalau temenannya selalu nanyain kabar, nanya lagi di mana, lagi ngapain, dan perhatian-perhatian semacamnya, itu mah TTM alias teman tapi mesra. Nggak masalah kalau dia nggak punya pacar. Lah kalau dia udah punya pacar baru? Ya berarti lo dianggap mainan.

Masalah BBM dan Line, setahu gue kalau ada kontak di Line yang tiba-tiba jadi 'ruang kosong' gitu, kemungkinannya ada dua. Pertama lo di-block, kedua dia hapus akun. Kalau ngeliat kasus yang udah-udah, besar kemungkinan dia nge-block kontak lo di Line dan ganti PIN BBM. Bisa karena banyak hal. Tapi prediksi gue sih karena dia ketahuan oleh pacarnya masih chat sama lo, dan pacarnya nyuruh dia buat hapus kontak lo. Nggak mungkin dia tiba-tiba menjauh dengan alasan benci. Kenapa? Karena dia nggak punya alasan buat benci sama lo. Toh dia cuma mainin perasaan lo doang. Jadi yang paling mendekati itu ya ketahuan sama pacar barunya dan disuruh buat hapus kontak lo.

Nah, itu tadi pendapat gue. Sekarang kalau lo minta saran, yang gue rekomendasiin cuma satu: segeralah sadar agar kembali ke jalan yang benar.


Wahai Erdina, temanku. Kalau lo nggak mau kehilangan orang yang kayak gitu, jujur gue lebih nggak mau lo kehilangan akal sehat. Sebagai teman yang baik, gue menganjurkan untuk buka mata dan pikiran. Cowok itu banyak. Ngapain ngarepin yang kayak gitu? Di luar sana, ada banyak cowok yang lebih bisa menghargai perasaan lo, dan tulus sayang sama lo. Bangkitlah. Pernah ditinggalkan oleh seseorang, bukan berarti harus tenggelam selamanya.

Analoginya kayak supir angkot yang ngetem di pinggir jalan nungguin penumpang karena angkotnya masih sepi. Padahal kalau dia mau maju, di depan sana ada banyak penumpang yang menunggu. Ya lo juga kayak gitu. Jangan diem aja nungguin seseorang dateng, tapi harus maju sambil berusaha nemuin orang baru. Pilihan lo cuma dua: terjebak di masa lalu, atau mulai melangkah untuk membuka lembaran baru.

Dan oh, lo nyadar nggak sih? Dia udah punya pacar baru aja masih perhatian sama lo yang udah jadi mantannya. Berarti, nggak menutup kemungkinan, waktu kalian pacaran dulu selama empat bulan, dia juga masih perhatian sama mantan-mantannya. Dan lo, masih mau takut kehilangan orang yang kayak gitu?

Think back.

***

Ps:

Udah nonton Draw Story episode "Cara Nisa Move On" belum? Coba tonton deh: https://youtu.be/Il5WqoRBS7c

Dan subscribe ya! :P
Read More
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)