QMochi

Ikeh, Kimochi, Hayaku, Dame, Yamete Kudasai

  • Home
  • Menu
  • Menu
  • Download Theme
  • Twitter
  • Facebook
  • GooglePlus
  • Instagram
  • Youtube
Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan

Perspective

Posted on 18.41.00 Tidak ada komentar:
- diary
"Yang jelas jangan pernah memainkan lampu senter dengan cepat, lampu senter itu dianggap undangan. Jangan berhenti menatap sekitar. Jangan makan keju, kotak tidak apa-apa. Jangan pakai topi sumbrero! Atau baju bodoh! Atau sepatu merah! Atau rok panjang! Jangan pernah! Selamanya jangan! Menari dan berteriak seperti kera!" - Indri, 05:38 WIB.

Ya, tadi pagi gue dapet chat yang isinya cuplikan dialog di film Spongebob. Gue juga nggak tahu si Indri kesurupan apa waktu ngirim chat itu. Mungkin, di pagi hari yang indah tadi, Indri bangun dan bad mood. Lalu ia bergumam, "Hmm.. lagi bad mood gini ngirimin chat horor ke orang lain enak juga kali ya?"

GUE BINGUNG WAKTU PERTAMA BACA CHAT ITU KAMPRET! GUE PIKIR KENA TEROR, EH PAS DIINGET-INGET TERNYATA SPONGEBOB EPISODE KEMPING BERUANG LAUT MELEDAK.

Huft banget.

First of all, lemme tell you the most ngeselin girl in the world:

Indriyati Siti Salamah (Instagram: @indriocess)

Belakangan ini gue lagi lumayan sering debat sama dia. Ngebahas banyak hal. Tadi pagi (setelah dia ngirim chat cuplikan dialog film Spongebob), gue nanya sama dia tentang gaya pacaran, lebih spesifiknya tentang 'definisi ngabarin pacar' karena kemarin gue baru aja berantem sama pacar gara-gara itu. HEHEHE.

Well, sedikit curhat. Jadi gue berantem sama pacar gara-gara gue nggak ngabarin dia selama tiga hari. Dan dia jadi ngerasa nggak dianggap sama gue. Dia bilang, "Kenapa harus selalu aku yang ngabarin duluan? Seolah-olah jadi enaknya di kamu doang." Ya kalau menurut dia ngabarin itu suatu beban, kenapa harus maksain buat ngabarin. Lagian meskipun gue nggak ngasih kabar, gue tetep inget sama dia. Gue nggak lupa kalau gue punya pacar. Cuma ya, gue ngerasa nggak perlu aja ngasih kabar kalau emang nggak ada yang penting.

Maksudnya, ngapain ngasih kabar kalau cuma "Aku lagi main nih, kamu lagi apa? Udah makan? Udah mandi? Udah minum obat cacingnya?" sebuah pertanyaan yang jawabannya juga masih gitu-gitu aja. Gini lho, kalau ada sesuatu, gue juga pasti ngasih tahu. Misalkan kalau gue sakit, kecelakaan, atau apalah gitu. Kalau nggak ada apa-apa, ya apa yang harus dikabarin? Gue juga bukan tipe orang yang ngerasa bahwa pertanyaan "udah makan belum?" itu harus ditanyain setiap hari. Ya semua orang waras juga tahu kalau laper itu harus makan. Nggak usah lah nungguin ditanya sama pacar baru makan. Mana ada orang yang laper banget, tapi bingung harus ngapain, dan baru inget harus makan ketika diingetin? Kebayang aja gitu.

"Aduh.. perut sakit banget nih. Kayaknya aku laper. Tapi harus ngapain, ya Allah?"

KAN ENGGAK GITU.

Jadi, menurut gue, selalu nanya "udah makan belum?" itu nggak bisa dijadiin patokan sebagai bukti kasih sayang.

Balik lagi ke masalah ngabarin. Gue bingung. Ngabarin yang menunjukan bukti sayang itu kayak gimana sih. Ngabarin yang bikin seseorang dianggap sama pacarnya itu kayak gimana? Apakah setiap beberapa jam sekali kita laporan lagi ngapain, di mana, sama siapa, itu contoh ngabarin yang bikin seseorang merasa dianggap sebagai sosok pacar? Apakah ngabarin itu sebegitu pentingnya sampe bikin seseorang pengin selalu dapet kabar dari pacarnya?

Gue ganti DP di BBM. Gue update status di BBM. Tanpa gue ngasih kabar pun, semua orang udah tahu kalau gue masih sempet ganti DP dan update status, berarti gue masih hidup. Dan kalau gue ganti DP sama update status yang normal-normal aja, berarti gue juga baik-baik aja.

Gue butuh seseorang yang tanpa gue kabarin seharian pun, bisa percaya kalau gue nggak lakuin yang aneh-aneh. Bisa ngerti kalau gue baik-baik aja. Gue bukan anak SMP yang gaya pacarannya harus chatting setiap hari, tapi isi obrolannya nggak terlalu penting untuk dibahas. Lagian kalaupun dia ngabarin duluan, misal mau curhat atau apalah gitu, gue tetep respons. Gue nggak merasa terganggu. Gue cuma bingung aja kalau mau ngabarin duluan ketika gue nggak punya kabar penting yang harus dikabarin.

Dia sempet bilang, "Kamu jadi keenakan, nggak ngabarin selama tiga hari. Kayaknya sebelum aku sakit, kamu nggak akan nyariin aku."

Hey, please grow up. Berpikir dewasa. Kalau dia sakit, apa perlu nunggu gue nanyain kabarnya baru dia bilang bahwa dia lagi sakit? Apa perlu gue nanya duluan baru dia bilang? Apa nggak bisa dia inisiatif bilang bahwa dia lagi sakit tanpa perlu gue nanya dulu? Jadi, sebenernya gue yang keenakan atau dia yang ribet?

Waktu gue ditabrak motor bulan kemarin, gue ngabarin dia tanpa nunggu dia nanya dulu. Gue juga maunya dia kayak gitu. Ngasih kabar ketika memang ada yang perlu dikabarin, nggak usah ngasih kabar kalau memang nggak ada kabar penting.

Satu hal lagi, gue ngerasa nggak perlu nyari tahu kabar dia, karena ketika dia ada sesuatu yang memang perlu gue tahu, dia bakal ngasih tahu tanpa gue nanya dulu. Toh gue juga kayak gitu. Dia nggak perlu nyari tahu kabar gue, karena ketika ada sesuatu yang penting dari gue (dan gue rasa dia harus tahu), gue akan kasih tahu dia meskipun dia nggak nanya.

Sekarang pertanyaannya: kalau gue nggak ada kabar penting apapun, apa yang harus gue kabarin? Harga rokok nggak jadi naik karena itu cuma gossip? Ya kali.

Waktu gue nanya Indri, dia jawab gini:

Thats what I mean, bruh!

Tapi ya udah lah ya, terlepas dari gue yang terlalu egois atau dia yang terlalu ribet (bagi gue), mungkin semua ini cuma masalah perspective.

Cara gue nggak cocok sama dia, dan cara dia juga nggak cocok sama gue. Jadinya berantakan. Tapi dia nggak salah kok. Ya emang udah dasarnya beda paham sama gue aja.

Bukankah semua orang punya sudut pandangnya masing-masing, bu guru?

***

Anyway, guys, some update. Gue udah ketemu sama Tsaqif. Waktu gue ke pesantren dia, sekitar jam sembilan malem, Tsaqif lagi duduk di teras rumah orang, nunduk, kucel, dan nggak pake sandal. Gue hampir sulit mengenali identitas anak ini untuk beberapa saat. Tadinya gue pikir dia ini anak hilang yang ditemukan warga pesantren. Ya, maafkan.

"Kenapa nggak pake sandal?" tanya gue.

"Sering ilang. Sandal yang kemarin-kemarin juga ilang."

"Kok bisa ilang?"

"Soalnya diambil kakak kelas."

"LAH ITU MAH BUKAN ILANG!"

Tsaqif malah cengengesan.

"Terus kamu nggak bilang ke kakak kelas kamu, kalau itu sandal punya kamu?" tanya gue lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

"Udah nyoba. Tapi kakak kelasnya bilang itu sandal dapet nemu."

BIJI MATAMU NEMU.

"Tapi kemarin udah dimarahin sama ibu, kakak kelasnya langsung nurut. Sekarang sandalnya udah ada di Tsaqif, tapi cuma dipake kalau mau ke rumah Aki." kata Tsaqif melanjutkan, "Kalau masih di daerah pesantren mending nggak dipake. Nanti ilang lagi ah. Hehehe."

"Terus selain sandal, apa lagi yang sering ilang?"

"Baju."

"Baju?"

"Iya, baju."

"Kok bisa?"

Tsaqif narik napas panjang sebelum menjelaskan, "Jadi gini, kan jemuran itu digantung di luar, terus kakak kelas suka ngambilin jemuran. Nah pas Tsaqif tagih, kakak kelasnya bilang itu baju dapet nemu. Jadi itu milik kakak kelas."

"Kok nggak kamu ambil?"

"Bisa diambil. Tapi harus nebus."

"Nebus?"

"Iya, nebus."

"Berapa?"

"Dua ribu per baju."

What the fak.

Sebagai kakak, gue merekomendasikan hal yang seharusnya dia lakukan, "Kalau gitu, kamu ambilin aja semua jemuran yang ada. Satu baju dibayar dua ribu, lima baju udah sepuluh ribu. Coba kalau sehari kamu bisa ambil 100 baju? Bayangkan, berapa gelas cendol yang bisa kamu borong dengan uang sebanyak itu?"

Nggak lah. Bercanda.

Gue bilang, "Kalau ada kakak kelas yang kayak gitu lagi, pukul aja kepalanya. Pake tangan kosong tapi."

Lagi-lagi, Tsaqif malah cengengesan.

"LAH MALAH KETAWA! INI SERIUS BUKAN BERCANDA!"

"Ya abisnya gimana lagi dong.."

"Ya makanya, kalau ada yang kayak gitu lagi, pukul aja."

Gue jadi heran. Itu pesantren yang ngedidiknya siapa ya. Kok bisa-bisanya ada tragedi pencurian sandal dan baju. Apalagi yang nyurinya itu kakak kelas. Sangat tidak mencerminkan sikap senioritas. Masalahnya, gue jadi takut kalau nanti adik gue udah tingkat atas, dia juga bakal nyuri barang-barang milik adik kelasnya. Bukan mencontoh, tapi lebih ke 'pelampiasan' sebagai pembalasan. Parah men.

Tsaqif, si manusia siluman tanah.

Gue nyuruh Tsaqif buat pukul kakak kelasnya, karena guru pesantrennya sendiri nggak bisa diandelin. Kalau yang mendidiknya nggak bisa jadi penjaga, pada siapa lagi adik gue mau minta pembelaan dan pertolongan? Diri sendiri. Gue nyuruh Tsaqif buat mukul kakak kelasnya juga bukan supaya dia jadi preman. Tapi supaya kakak kelasnya ngerti, bahwa mencuri itu salah. Kalau udah nggak bisa dijelasin secara omongan, ya mungkin emang harus nyoba dikasih pukulan.

Pesan moral dari pertemuan dengan Tsaqif malam itu:

Kalau kamu nggak jago berantem, minimal jago jagain jemuran.

***

PS:

Ada video baru di YouTube Channel gue, "Where Are U Now - Justin Bieber ft Jack U (Skrillex & Diplo)" inspired by the original music video!

Ini link-nya: https://youtu.be/D6AnGvvmUhw

Have you subscribe my channel?
Read More

Tentang Rumah Baru

Posted on 05.19.00 Tidak ada komentar:
- diary
Di postingan kali ini gue mau cerita tentang rumah baru. Well, sebenernya nggak terlalu baru juga sih. Mungkin lebih tepatnya rumah yang saat ini gue tempati. Soalnya gue udah menetap di sini selama kurang lebih delapan bulan.

Oh iya, rumah yang gue maksud ini lokasinya di jalan Sukagalih gang Mandalika nomor 60 A RT 04 RW 07, Bandung. Kalo kamu mau mampir, gue dengan senang hati menerimanya. Tapi bawa martabak manis ya. Kalo bisa sih rasa green tea dari Maratabak Queen yang di Alfamart Sukagalih. Sumpah itu enak banget.

Btw, gue baru potong rambut. Terakhir cukuran itu bulan Oktober tahun 2015 di Jakarta. Dan sekarang, rambut gue jadi kayak gini:

Dicukur gara-gara dimarahin pacar. Katanya gue terlihat seperti gembel. Jadi, selain cukuran rambut, kemarin juga gue cukuran kumis. Hohoho.

Ehm..

Ada banyak hal baru yang gue dapetin di rumah baru ini. Seperti pacar, misalnya. Gue sempat pacaran sama salah satu cewek (ya iyalah cewek masa pohon) di sini. Ya meskipun pacarannya sebentar banget dan kronologisnya bener-bener suram sih. Cerita selengkapnya pernah gue tulis di blog ini, bisa dibaca di postingan: Tragedi Cinta Illuminati.

Tapi sesuram-suramnya tragedi cinta lokasi gue, masih lebih suram lagi cinta lokasinya si Candra, salah satu temen gue yang sering main ke rumah. Ceritanya waktu beberapa hari baru pindah ke sini, di lapangan Mandalika ada acara kecil-kecilan gitu. Gue nggak tahu acara apaan, yang jelas ada banyak ibu-ibu dan anak-anak yang karaokean. Seingat gue sih lomba nyanyi gitu. Soalnya di akhir acara ada penyebutan juara dan pembagian hadiah juga.

Nah, pas di acara, si Candra bilang gini, "Ka, liat deh cewek yang itu," sambil nunjuk ke salah satu cewek yang lagi berdiri, "Mirip si Garnis!"

Well, Garnis itu adik kelas kami di sekolah.

"Eh iya, ya? Itu beneran Garnis atau cuma mirip?" jawab gue.

"Mirip doang, Ka. Soalnya tinggi Garnis kan nggak setinggi itu."

Gue mengangguk pelan.

"Tapi lebih cantik yang ini sih," kata Candra melanjutkan, masih sambil merhatiin cewek itu, "Kulitnya juga lebih putih. Hehehe."

"Mau lo keceng?"

"Hmm.. boleh deh."

Dan ternyata beneran dikeceng. Dari beberapa sumber referensi, akhirnya kami mengetahui nama cewek itu. Namanya Nadia, siswi SMA Puragabaya kelas dua, anak bapak Ai. Oke, nama bapaknya nggak begitu penting sih.

Pernah satu waktu gue tantangin Candra buat minta nomor hp si Nadia. Entah siluman apa yang merasuki Candra hari itu, yang jelas dia benar-benar menyanggupi tantangan gue. Untuk pertama kalinya selama empat tahun barengan sama dia, gue melihat keberanian Candra minta nomor hp cewek secara langsung. Kebetulan, si Nadia ini sering lewat ke depan rumah gue kalo mau beli seblak di warung Mah Cici atau jajan ke warung Bu Susi.

"Eh, Nadia, boleh minta no hp?" tanya Candra yang dari tadi udah nungguin di teras rumah gue.

Nadia yang baru pulang dari warung cuma bengong dan sempat terdiam beberapa detik sebelum dia menjawab, "Adanya pin BB."

"Ya udah nggak apa-apa pin BB."

"Tapi nggak tahu berapa, nggak bawa hp soalnya."

Candra diam.

Nadia diam.

Gue cuma nyimak mereka berdiam sambil ngemil cireng.

Nggak lama kemudian, Nadia langsung pergi melanjutkan langkahnya. Candra tertunduk pasrah menerima kenyataan yang bertolak belakang dengan ekspetasinya. Dan sampe postingan ini ditulis, Candra belum berhasil dapet pin BB ataupun nomor hp itu cewek. Suram banget.

***

Di rumah baru ini, selain masalah cinta, gue juga dapet masalah-masalah lainnya (kok kedengerannya hidup gue banyak masalah ya?) mulai dari yang sepele sampe yang bikin otak jadi brekele.

Masalah pertama yang paling sering terjadi adalah tidur. Gue setiap kali pindah rumah, pasti selalu susah tidur di beberapa malam pertama. Kadang bisa sampe tiga malam, kadang bisa lebih. Nggak tahu kenapa, cuma rasanya kayak belum terbiasa aja. Mungkin butuh adaptasi kenyamanan sama kamar yang baru. Iya sih gue sering begadang. Tapi begadang dan susah tidur itu beda. Kalo begadang emang udah diniatin nggak akan tidur karena ada sesuatu yang harus dilakuin.

Aneh ya. Kenapa tidur itu susah? Lebih anehnya lagi, awalnya susah tidur, begitu udah lelap malah susah bangun. Gue waktu kelas 1-2 SD, paling susah bangun pagi, padahal malemnya nggak begadang. Sebenernya kalo pas kecil itu bukan susah bangun, tapi lebih ke males bangun karena udara dingin. Makanya waktu kecil, nggak jarang gue baru bener-bener bangun dengan posisi berdiri di kamar mandi.

Jadi, cara nyokap ngebangunin gue waktu kecil adalah ngegendong gue ke kamar mandi, terus gue ditelanjangin, terus punggung gue diguyur pelan pake air dingin. Di momen itu, gue yang awalnya merem langsung mendadak melotot dan ngejerit, "Aduh, dingin, bu! Dingin! ANDUK MANA ANDUK?!" yang lalu dijawab oleh nyokap, "Ini baru punggung kamu doang yang basah. Ngapain minta anduk? Nih, gosok gigi dulu. Terus keramas yang bersih." sambil ngasih odol dan sikat gigi.

Tapi nggak jarang juga, kalo masih bener-bener ngantuk dan males buat buka mata, omongan nyokap jadi terdengar samar dan cuma kedengeran bagian keramasnya. Alhasil gue keramas pake odol.

Ya, intinya sih, kalo kalian susah tidur, minimal jangan susah bangun. Karena ngumpulin konsentrasi pas awal bangun itu susah banget.

***

Masalah kedua, masalah yang lebih ke lingkungan. Rumah baru gue ini lokasinya dataran rendah. Jadi, jalan Sukagalih itu bentuknya kayak wajan. Nah, kampretnya, gang Mandalika ini terletak di titik pusat. Jadi setiap kali hujan pasti kebanjiran. Gue pernah satu waktu pas lagi asik-asiknya main gitar, tiba-tiba turun hujan dan langsung banjir dalam waktu beberapa menit. Banjirnya juga lumayan tinggi. Kalo gang Mandalika dijadiin bendungan, mungkin gue bisa ternak dan jadi juragan ikan lele yang sukses di Sukagalih.

Gue sih nggak masalah sama banjir. Yang jadi masalah itu benda-benda yang hanyut kebawa banjir. Nggak tahu dari rumah siapa, tapi setiap kali hujan reda dan banjir mulai surut ke gorong-gorong, suka jadi banyak sampah yang berserakan di sepanjang jalan depan rumah.

Beberapa bulan yang lalu, pak RT (dibacanya bukan pak retweet) sempat mengadakan kegiatan gotong royong. Beliau ngirim surat ke setiap rumah yang isinya ajakan untuk para warga membersihkan selokan berjamaah. Seumur-umur gue hidup dan tinggal di Bandung, baru kali ini dapet undangan bersihin selokan dari ketua rukun tetangga.

Singkat cerita di hari itu para warga bersihin selokan dari pagi sampe siang. Jalan di depan warung Bu Susi juga banyak direnovasi. Hasilnya? Alhamdulillah nggak ada perubahan. Tetep aja banjir. Ya iyalah, orang warga sini masih banyak yang buang sampah sembarangan. Percuma kemarin bersihin selokan kalo besoknya tetep buang sampah di mana aja.

Selain banjir, gue juga agak heran sama anak-anak SMP yang suka pacaran di depan kuburan gang Mandalika. FYI, kalo kamu main ke gang Mandalika, di belokan pertama ada makam keluarga gitu. Lokasinya bener-bener pojokan. Jalannya juga cuma muat dua motor. Nah, itu dia masalahnya. Gue pernah waktu itu baru pulang sekitar jam delapan malem, pas mau belok ada banyak anak SMP yang lagi pacaran. Tapi agak absurd juga, soalnya perbandingan cewek dan cowoknya nggak merata. Waktu itu ceweknya ada dua, cowoknya ada lima. Itu tiga cowok sisanya LGBT? Oke, nggak masalah sih mau pacaran atau LGBT, yang jadi masalah itu ngapain mereka pacaran (atau LGBT-an) di depan kuburan, di dalem gang.

NGEHALANGIN JALAN KAMPRET!

Kenapa juga coba harus milih kuburan sebagai tempat pacaran. Ya kalo nggak punya duit buat ngajak makan, jangan ngajak pacaran. Mungkin mereka pikir anak orang dikasih omongan doang bisa kenyang.

***

Tapi perlu kalian ketahui, teman-teman, bahwa di rumah baru ini gue nggak cuma dapet masalah. Gue juga dapet hal-hal baru berupa kebahagiaan. Kayak misalnya punya tetangga yang ramah-ramah. Contohnya kemarin, amih (bahasa sundanya nenek) tetangga depan rumah gue ulang tahun. Beliau merayakannya dengan ngundang para tetangga untuk makan besar di rumahnya.

Atau Bu Hasanah, tetangga sebelah rumah, yang setiap kali punya rezeki lebih sering bagi-bagi ke beberapa rumah terdekatnya. Gue pernah waktu itu lagi jalan pulang dari warung, tiba-tiba dikasih singkong sama Bu Hasanah, tapi masih mentah karena Bu Hasanah kehabisan minyak buat ngegorengnya. Pas gue pulang, ternyata dapur rumah gue sama aja. Tahu gitu tadi ke warung sekalian beli minyak.

Overall, gue sih nyaman-nyaman aja tinggal di sini. Terlebih lagi karena letaknya di dalem gang dan posisinya hampir di ujung, jadinya nggak selalu berisik sama suara motor yang lewat. Beda banget sama rumah gue yang dulu, selalu bising sama suara motor.

Apalagi tetangga di rumah lama banyak yang nggak ngerti waktu. Sampe-sampe gue jadi hapal kalo tetangga udah nyalain musik dangdut dengan volume bioskop, berarti udah jam setengah tujuh pagi. Maksud gue ya, kalo nggak ngerti cara ngecilin volume, minimal ngerti kapan harus nyalain musiknya. Terus ada juga tetangga yang kalo pagi-pagi manasin motor, pasti gasnya digerung-gerung. Iya, orang semacam itu adalah orang yang kepalanya minta dikeplak banget pake mesin jahit.

Tapi meskipun gue udah mulai betah sama rumah baru ini, nyokap katanya pengin pindah lagi. Seharusnya kami udah pindah dari bulan kemarin. Tapi terpaksa diundur karena rumah baru yang mau ditempatin nanti masih renovasi. Kata pemiliknya rumah itu masih banyak bocornya. Jadi harus diperbaiki dulu sebelum ditempati sama orang baru.

Gue sempat nanya ke nyokap kenapa pengin pindah lagi. Nyokap jawab, "Ya soalnya waktu itu ibu pikir lingkungan sini nyaman. Kirain nggak akan sering banjir."

Mendengar jawaban itu, gue jadi sadar satu hal. Bahwa nyari pasangan itu sama kayak nyari rumah. Delapan bulan yang lalu nyokap milih rumah ini karena nyokap pikir lingkungan di sini nyaman. Tapi setelah ditempati, baru terasa masalah-masalahnya. Nyari pasangan juga kayak gitu. Kita sering milih hubungan dengan seseorang yang kita pikir baik, tapi setelah dijalani baru terasa sikap-sikap jeleknya.

Kalo menurut gue, rumah ini nggak salah. Tapi nyokap aja yang terlalu cepat memilihnya. Karena dari dulu lingkungan di sini nggak berubah. Emang udah sering banjir. Cuma kebetulan aja waktu awal pindah belum musim hujan. Jadi baru ketahuan sering banjirnya sekarang-sekarang.

Pasangan juga kayak gitu. Di saat sikap dia terasa aneh dan berbeda dari pas awal kenalan, gue rasa itu bukan dia yang salah. Kita aja yang terlalu cepat mempercayainya. Karena terkadang bukan orangnya yang berubah, tapi kita yang baru tahu gimana sikap dia yang sebenarnya.
Read More

Life Rewind 2015, Sponsored By Ingus

Posted on 20.06.00 Tidak ada komentar:
- diary
Tahun ini adalah awal tahun yang kurang keren untuk gue. Bayangin aja, gue sakit selama satu minggu dari beberapa hari sebelum malam pergantian tahun. Awalnya cuma nggak enak badan sama pusing doang. Giliran badan udah mendingan dan pusing agak ilang, eh malah lanjut ingusan. Gembel banget emang.

Alhasil, tahun baruan kemarin gue cuma diem di rumah aja. Selonjoran di kasur sambil nonton sinetron dan dengerin suara kembang api yang entah kenapa udah banyak dinyalain dari jam delapan malem.

Oh iya, waktu lagi nulis postingan ini, gue nulisnya sambil ingusan. Meler ke mana-mana. Lubang hidung gue yang satu mampet, yang satu enggak. Jadinya gue nulis dengan posisi tangan kanan ngetik di keyboard dan tangan kiri megang kobokan buat cuci tangan setiap abis buang ingus.

Ya, tentu saja gue buang ingusnya manual karena nggak ada satu pun orang rumah yang mau disuruh buat buangin.


Potret seorang blogger yang sudah muak dengan hidungnya yang tersumbat.

Btw, ada kabar baik buat temen-temen yang kemarin pada ngeluh karena loading page blog ini agak berat, sekarang udah gue ganti template-nya pake yang lebih ringan. Layout juga gue edit sendiri se-simple mungkin supaya kalo dibuka lewat mobile bisa lebih ngebut dari yang kemarin.

Overall, gue suka sama template yang baru ini. Konsepnya bener-bener kayak buku diary (pas buat postingan gue yang kebanyakan isinya curhat). Tapi kalo dibuka lewat PC mungkin bakal keliatan terlalu polos karena layout ini nggak pake sidebar buat nyisipin widgets.

So, gue harap kalian suka sama layout yang baru ini, dan semoga tampilannya nggak telalu feminim di mata kalian. Hahaha.

Gue serius woy.

***

Ehm, so whats up, guys? Im back! Setelah hampir satu bulan nggak nulis postingan di blog karena banyak kerjaan, akhirnya sekarang gue bisa posting lagi. Ya meskipun sambil ingusan.

Untuk postingan pertama di tahun baru ini, gue bakal share Life Rewind 2015. Jadi, mari kita flashback sedikit untuk mengingat hal-hal memorable apa aja yang udah terjadi dalam hidup gue selama setahun ke belakang.

1. Dapet Tiket Gratis Konser Secondhand Serenade

Waktu bulan November tahun 2014, gue dapet telepon dari SMAN 2 Bandung buat bikin live report dan dokumenter event Futwore bulan Januari 2015 (acara seni musik dan bazaar). Semacam nggak percaya juga sih, diajak kerjasama oleh salah satu sekolah favorit yang udah sering bikin event-event keren tahunan.

Sebelum acara dimulai, gue sempet meeting dulu sama beberapa media lainnya yang bakal ikut live report juga. Hari itu, gue kumpul dalam satu ruangan bareng para jurnalis dan reporter dari berbagai macam media ternama. Gue merasa keren.

Pas di acara, gue ditemenin sama Lannisa (panitia acara) yang bakal ngatur jadwal gue untuk bikin report. Gue sangat memanfaatkan kesempatan ini. Kalo lagi ada tempat yang kosong buat liputan, pasti langsung gue ambil. Dari depan panggung, dari kursi reguler, bahkan sampe di kursi VIP pun gue ambil. Yoi, lumayan lah dapet kesempatan duduk di kursi yang harganya sebanding sama kolor satu lemari.

Acaranya digelar di Sabuga. Selain ada stage sebagai tempat para musisi perform, di Futwore juga ada beberapa stand jajanan:


Selain ada Secondhand Serenade sebagai bintang utamanya, event Futwore juga diramaikan oleh beberapa musisi lokal dan tanah air. Musisi lokalnya sih kebanyakan genre Ska sama Rock n Roll. Tapi ada Payung Teduh juga deng. Sedangkan musisi tanah airnya ada Maliq & D’essentials.


Pas perform dari Maliq, semua penonton pada loncat-loncat kayak kutu air abis disiram minyak tanah.

Sayangnya, gue nggak sempet nonton Secondhand Serenade, Soalnya kelamaan. Di jadwal acara, dia perform jam 11 malem. Dan gue pulang jam setengah 11, pas Maliq udah selesai manggung. Meskipun nggak nonton Secondhand Serenade live, tapi gue udah liat videonya dari salah satu temen media. Rasanya tetep sama kayak lagi duduk di kursi VIP karena videonya di-record dari kursi VIP juga. :p

2. Makan Mie Ramen Gratis

Gue lupa bulan apa, tapi nggak jauh-jauh dari event Futwore. Sekitar pertengahan Febuari lah. Gue dapet email dari GerobakRamen buat nge-review mie ramennya. Betul. Ini adalah anugrah dari menjadi anak media. Dapet gratisan di mana-mana. Huahaha.

Waktu itu, gue dateng ke GerobakRamen cabang Suci bareng pacar (mumpung gratisan) dan disambut oleh pelayannya yang sumpah mirip Wendy Cagur! Begitu duduk, gue dikasih daftar menu buat milih ramen mana yang mau gue review.

Gue pilih ini:


Ramen Korea Topping Fishball.

Sedangkan pacar gue pilih ini:


Ramen Tom Yam Topping Chicken Katsu.

As far as I can tell, tempatnya nyaman banget. Emang nggak terlalu mewah tapi kebilang cukup kalo buat ngajak pacar makan ramen. Soalnya selain menu yang disediain bervariasi, tempatnya juga bikin betah. Suasana warung caffe gitu.

Sekarang sih nggak tahu masih ada atau enggak, tapi kalo kamu lagi di Bandung dan mau nyobain MieRamen cabang Suci (sekaligus ketemu sama kembaran Wendy Cagur), dateng aja ke jalan Jalaprang nomor 87, Sukaluyu.

Atau bisa tanya-tanya dulu ke @GRamenSuci via Twitter.

3. Satu Bulan Terdampar di Jakarta

Setelah lulus sekolah dengan gelar Analis Kimia, akhirnya gue nyasar ke Jakarta dan kerja sebagai content writer di salah satu website yang ngebahas tentang teknologi. Emang nggak nyambung banget sama pedikat kelulusan yang gue miliki.

Selama kerja di Jakarta, gue dapet banyak temen baru, ilmu baru, dan pengalaman seru yang nggak akan bisa dilupain. Soal kenyamanan, meskipun cuacanya panas tapi gue betah kok tinggal di Jakarta. Soalnya ada kipas angin di setiap ruangan. Dan kerjanya juga di dalem rumah. Jadi bisa buka baju dan pake boxer doang. Huehehe. Dan juga, di sini ada gitar sama ampli:


Tolong abaikan mejikom di belakang.

Selama terdampar di Jakarta, pelajaran yang paling berkesan buat gue adalah cara bertahan hidup saat jauh dengan orangtua. Gimana caranya gue bisa ngatur pola makan, uang jajan, dan kebersihan di saat nggak ada lagi yang ngurusin itu semua. Ya, gue harus belajar nge-manage itu sendiri selama di Jakarta. Dan selama satu bulan di sana, cuma ada satu hal yang selalu gue rindukan setiap malam: rumah.

Entah kenapa, senyaman apapun sebuah tempat tinggal, kalo di dalemnya nggak ada orang rumah yang biasa gue temuin setiap hari, rasanya kayak ada yang kurang aja. Makanya, seminggu sekali gue teleponan sama nyokap sampe berjam-jam cuma buat ngaler-ngidul ngobrolin hal yang nggak penting. Karena tujuan dari teleponan itu bukan mau nyari kabar, tapi cuma mau denger suara orang rumah.

Oh iya, karena terdamparnya cuma satu bulan, jadi sekarang gue udah di Bandung lagi. Sebenernya gue udah di Bandung dari akhir bulan November 2015. Jadi, buat yang nanya sekarang gue lagi sibuk apa, sekarang gue sibuk nganggur. Iya, nganggur aja sibuk. Apalagi kerja. Yoi.

Gue juga dapet oleh-oleh dari Jakarta:


Bukan, itu bukan salep buat panuan.

PS: buat Ulfa di Banten yang masih punya hutang J.Co sama gue, ditunggu banget ya yoghurt-nya. Dibilangin juga apa, harusnya nge-yoghurt pas gue masih di Jakarta. Sekarang keburu jauh kan. Eh tapi JNE masih nyediain jasa kirim barang kok. #BukanKode

4. Tumbuh Bersama Pembaca Blog

Sebenernya masih ada banyak momen yang memorable di tahun kemarin, tapi gue cuma pilih empat aja karena sisanya udah banyak gue ceritain di blog ini. Jadi kalo mau tahu momen-momen lainnya, monggo check archive blog ini aja ya. Hehehe.

Oke, hal memorable terakhir untuk gue adalah tumbuh bersama pembaca blog. Ya, sejak awal ngeblog di pertengahan tahun 2013 sampe sekarang udah awal tahun 2016, banyak banget hal yang gue ceritain di blog ini. Kemarin gue cek, udah ada 120 postingan. Dan ini adalah postingan ke 121.

Selain udah banyak postingan yang gue publish, ternyata ada banyak juga yang sering ngebacain postingan-postingan di blog ini. Dan satu hal yang bikin gue merasa beruntung sebagai blogger adalah, gue tumbuh bersama mereka.

Dulu, waktu awal ngeblog, gue masih kelas 2 SMA. Dan Keuis (salah satu pembaca blog ini yang rajin banget bacain postingan yang baru dipublish) masih kelas 3 SMP. Sekarang gue udah lulus sekolah. Dan Keuis sekarang udah SMA.

Gue masih inget banget, dulu waktu Keuis baru masuk SMA dan lagi di Ospek, dia disuruh bikin puisi cinta sama kakak kelasnya. Dia ngirim sms ke nomor gue, terus nyuruh gue buat bikinin tugas ospeknya. Lanjut di tahun berikutmya, Keuis masih sering ngirim chat ke gue. Isinya curhat, minta solusi seputar percintaan. Entah udah berapa kali gue jadi pendengar curhatan dia.

Dan yang gue pelajari dari itu semua, ternyata gue sama temen-temen pembaca blog ini tumbuh bersama-sama. Dulu, waktu gue masih sekolah, kebanyakan curhatan yang gue posting di blog ini adalah pengalaman pacaran. Dan karena itu, temen-temen pembaca yang curhat minta solusi ke gue pun nggak jauh-jauh dari seputar percintaan.

Selain itu, gue sama temen-temen pembaca juga saling share. Gue curhat di blog, lalu dibaca oleh mereka. Kemudian di saat mereka punya masalah yang mirip-mirip sama masalah yang pernah gue alami dan gue share di sini, mereka dateng ke gue, dan gue yang dengerin mereka. Bukankah ini namanya tumbuh bersama-sama?

Keuis adalah satu-satunya temen pembaca blog ini yang dari awal gue ngeblog masih kontakan sama gue (dan sering sharing) sampe sekarang. Bahkan setiap ada social media baru yang jadi tranding, kami pasti saling follow. See? Blog ini membawa gue bertemu dengan banyak orang, dengan banyak temen.

Gue cuma mau bilang, terima kasih buat semua temen-temen pembaca yang selama ini udah nemenin gue dan blog ini. Bagi gue, kalian adalah the best things I ever had from this blog. Dan buat yang baru pertama kali nyasar ke blog ini, just enjoy your time here and feel free to ask me about anything.

So, mumpung masih awal tahun, masih seger-segernya buat memulai hal baru, di sini ada yang berencana bikin blog nggak? Kalo ada, nanti kasih tahu gue link blog kalian ya! Gantian dong, giliran gue yang bacain cerita-cerita kalian. :p

***

Tambahan:

Kemarin gue dapet email dari bangalkautxxx@gmail.com

“Bro mau tanya buat stop motion yg happy mother day gimana?”

Halo! Btw itu bukan stop motion. Tapi cara bikinnya gampang banget kalo lo bisa ngedit gambar. Soalnya frame itu diambil full dari gambar. Kalo gue ngeditnya pake aplikasi PicsArt (Android/iOS). Siapin aja gambar yang mau dijadiin main picture, terus edit sesuai keinginan. Tambahin teks atau clipart. Abis itu kumpulin semua gambarnya dan render jadi video pake aplikasi video editor.
Read More

Ngomongin Nyokap Gue

Posted on 20.08.00 Tidak ada komentar:
- diary
Hola, Im back!

Nggak kerasa udah satu bulan lebih gue belum update blog lagi. Harap maklum, belakangan ini gue emang agak sibuk ngurusin beberapa hal. Kalo kalian gimana? Sibuk apa aja? Masih sibuk move on? Gue doakan semoga masih.

Well, berhubung hari ini adalah Hari Ibu sedunia, sekarang gue mau ngomongin nyokap gue. Iya, ngomongin nyokap gue. Sengaja diulang untuk meyakinkan bahwa kalian nggak salah baca. First of all, I wanna to show you my mother, the amazing super hero in my life:

Happy Mother Day

Ya, selama sembilan belas tahun hidup di dunia ini, banyak banget hal yang gue lakuin bareng nyokap. Mulai dari gue masih berbentuk sel sperma dan berevolusi menjadi sosok mahluk hidup yang lebih layak, sampe sekarang gue nulis postingan ini, nyokap adalah satu-satunya super hero yang paling awesome dalam hidup gue. Dan gue sangat bersyukur memiliki beliau.

Sejak kecil, gue selalu bertanya, "Apa itu arti hidup senang?" ke nyokap. Dan sering kali nyokap menjawab dengan jawaban yang selalu sama, "Hidup senang adalah ketika Aka punya sesuatu yang orang lain nggak punya."

Jadi, menurut akal hemat nyokap gue, lo bisa dikatakan hidup senang ketika lo memiliki sesuatu yang orang lain nggak bisa memilikinya. Misal, lo punya iPhone 6s di saat semua temen-temen lo masih pada pake Android merk Cina. Itu udah termasuk hidup senang. Atau misalnya lagi, lo punya dua nyokap. Itu juga hidup senang. Iya, lo yang hidup, bokap lo yang senang.

Dulu, gue nggak ngerti apa maksud nyokap. Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan gue mulai paham. Sekarang gue ngerti apa yang dulu nyokap bilang tentang definisi hidup senang. Ya, gue punya nyokap yang orang lain nggak punya! Nyokap gue cuma milik gue! Tsaqif dan Nasywa cuma gue pinjemin aja! Oke, nggak gini juga deng. Skip.

Kalo ngomongin nyokap gue, banyak banget hal absurd yang bisa gue share di sini. Tentunya, banyak juga dosa yang bakal gue tanggung karena udah nyebarin aib nyokap sendiri. Tapi tak apa, karena seperti kata Ustad Emul, sesungguhnya pintu maaf seorang ibu itu akan selalu terbuka untuk anaknya. Tapi pintu maaf itu entah berlaku atau enggak untuk dosa yang disengaja kayak gini. Semoga aja berlaku sih.

Ya udah, daripada terlalu bertele-tele, kita langsung aja ke yang pertama. Here goes!

***

1. Nyokap Gue Sosialita

Seperti yang kita semua ketahui, teman-teman, sekarang kita hidup di era teknologi. Dan sebagai salah satu bukti nyata kecanggihan dunia yang paling akrab dengan hidup kita adalah internet. Ya, ada banyak banget yang bisa kita dapetin dari internet. Menurut gue pribadi, internet itu udah kumplit parah. Buat orang-orang yang hidupnya mengutamakan komunikasi, ada berbagai macam aplikasi chatting. Buat orang-orang yang hidupnya penuh drama, ada berbagai macam social media. Buat orang-orang yang hidupnya nggak pernah bisa serius di sekolah, ada berbagai macam game online. Buat orang-orang yang bosen hidup sebagai jomblo, ada beberapa situs bokep.

Dengan internet, manusia jadi lebih mudah untuk mengekspresikan hidupnya. Nggak terkecuali nyokap gue. Sebagai ibu-ibu yang turut mengikuti perkembangan zaman, nyokap gue juga menjadi bagian dari internet. Ya, nyokap gue cukup aktif di beberapa social media. Nyokap punya facebook, dan sekali update status yang ngelike bisa sampe ratusan dalam hitungan menit. Ketenaran nyokap gue mampu mengalahkan Khodijah DJ Yellow di dunia maya. Selain facebook, nyokap gue juga punya Instagram, Path, dan yang paling parah pernah minta bikinin blog ke gue. Entah apa yang ada di pikirannya waktu itu.

Gue sendiri fine-fine aja kalo nyokap mau ikut gaul di social media. Cuma yang nggak enak itu adalah efek sampingnya. Semenjak nyokap kecanduan internet, komputer di rumah gue sempat menjadi korban keganasan beliau. Gue masih inget banget, waktu itu gue kelas enam SD. Tahun itu, nyokap gue jadi sering duduk di depan komputer selama berjam-jam sambil ketawa-ketawa sendiri.

Beberapa tahun kemudian, bokap membelikan seperangkat alat online berupa smartphone Android Samsung Galaxy Grand. Dan semenjak insiden itu, nyokap gue jadi semakin brutal. Nggak cukup dengan social media, nyokap juga mulai aktif pake aplikasi chatting. Gaul sih, tapi penggunannya yang salah gaul. Pernah satu waktu, terjadi percakapan seperti ini:

Nyokap: "Ka, udah makan belum?"

Gue: "Belum."

Nyokap: "Makan dulu sini, ibu di dapur udah masak."

Nyokap: "PING!!!"

Nyokap: "PING!!!"

Nyokap: "Read BM!"

Gue: "..."

Padahal gue di kamar. Dan jarak dari kamar gue ke dapur cuma beberapa langkah. NGAPAIN LEWAT BBM? KENAPA NGGAK NGETUK PINTU KAMAR AJA?!

Setelah gue keluar dari kamar, gue pun langsung menuju dapur untuk ngambil makan dan mengklarifikasi tindakan nyokap yang udah kelewat batas ini.

"Bu, kenapa sih harus lewat BBM? Kan bisa ngetuk pintu kamar Aka. Mana ngechat-nya rusuh pula."

Nyokap jawab, "Yee, suka-suka ibu dong! Ini kan BBM ibu. Emangnya ini BBM kamu? BBM temen-temen kamu? Temen kamu punya BBM emang? Invite dong pin ibu."

Selera makan gue mendadak hilang.

Selain jadi males jalan dari dapur ke kamar gue, gara-gara internet nyokap juga jadi sering marah-marah. Sumpah, ngamuknya ibu-ibu yang kecanduan internet jauh lebih horor daripada ngamuknya Ahok di televisi. Waktu itu kejadiannya pas gue lagi asik main game di kamar, tiba-tiba nyokap dateng sambil curhat masalah internet.

"Ka, ini internetnya mati. Ibu nggak bisa update status. Kira-kira kenapa ya?" tanya nyokap pada gue, dengan penuh rasa heran di tatapannya.

"Lah, nggak tahu?" jawab gue santai.

"Ya kamu tolong benerin dong, kali aja ada yang rusak atau apa gitu."

"Benerin sendiri lah? Aka lagi main game."

"Ini internet ibu mati, Ka."

"Iya coba cek kenapa."

"INI INTERNET IBU MATI!"

"Uhh.. oke, oke.."

Kemudian gue ngecek hp nyokap.

"Gimana, Ka? Ada masalah apa itu?" tanya nyokap, nggak sabaran.

"Oh, ini sih.."

"Kenapa? Kenapa? ADA MASALAH APA?!"

"BELOM SELESAI NGOMONG!!"

"Oke, santai, Ka, santai. Ibu datang dengan damai, santai." jawab nyokap sambil ngacungin salam dua jari.

"Ini sih paket internet ibu udah abis." kata gue menjelaskan.

Nyokap mengenyitkan dahinya, "OH! Iya lupa, tadi ibu download lagu!"

"..."

Buat yang mau add facebook nyokap gue:

Ngomongin-Nyokap-Gue

Nyokap kalian gimana? Punya facebook juga nggak? Sini gue add.

2. Nyokap Gue Suka Begadang

Masih berhubungan sama poin yang pertama, akibat kecanduan sama social media, nyokap gue jadi sering begadang. Kebetulan mayoritas temen-temennya (sumpah gue masih nggak percaya ternyata ibu-ibu yang suka begadang main facebook itu banyak) juga sering aktif di dunia maya sampe tengah malem.

Gue, yang dari kelas tiga SMA sering begadang karena tugas sekolah yang si anjir susah semua banyak banget, jadi sering begadang bareng sama nyokap. Kadang nyokap begadang di kamar gue, buat nemenin gue ngerjain tugas. Dan tentunya gue pura-pura bisa aja ngerjainnya supaya nyokap nggak banyak ngomel.

Kegiatan begadang bareng sama nyokap jadi makin sering dilakuin, dan lama-lama jadi semacam hal yang wajar. Mungkin ini juga bisa disebut sebagai quality time karena kalo siang, gue agak jarang di rumah. Bahkan, beberapa kali gue sempet dibantuin bikin vidgram oleh beliau. Lumayan, punya crew gratis buat jagain kestabilan kamera. Tapi yang paling sering dilakuin waktu begadang itu adalah nyanyi. Iya, gue main gitar, nyokap nyanyi, jam 12 malem. Dan kami cuek-cuek aja. Sungguh tetangga yang ngeselin bagi orang-orang di sekitaran rumah gue.

Selain sibuk dengan facebook-nya, biasanya juga nyokap suka sambil cerita-cerita kalo lagi begadang bareng. Kadang nyeritain hal yang terjadi siang tadi, kadang nyeriain masa lalu gue, kadang juga nyeritain Pak RT yang ketahuan selingkuh sama tukang seblak di belakang rumah. Bagi gue, begadang bareng sama nyokap itu seru banget. Makanya waktu kemarin kerja di Jakarta selama satu bulan, gue agak kehilangan temen begadang.

Buat yang nggak percaya kalo nyokap gue suka begadang, tanya aja ke si Candra (@Candraardian10), yang pernah begadang bareng gue sama nyoka sampe subuh! Ngomongin aib-aib gue di masa kecil. Kampret emang. 

3. Nyokap Gue Temen Curhat

Entahlah kalo orang lain, tapi hubungan gue sama nyokap itu kayak temen. Iya, kayak temen akrab! Dan gue emang nyaman sama sosok nyokap yang kayak gini. Bisa ngikutin anaknya buat interest sama mindset ataupun pergaulan.

Mungkin awalnya karena sering begadang bareng, jadinya komunikasi gue sama nyokap jadi lebih terbuka dan luas. Udah sering banget gue sama nyokap saling share and care, tapi dengan cara kami tentunya. Pernah satu waktu, nyokap gue curhat kayak gini:

"Ka, ibu lagi sedih. Kenapa ya temen-temen ibu pada jahat. Padahal waktu mereka lagi susah dan butuh uang, ibu kasih pinjem. Giliran ibu nagih karena lagi butuh, mereka malah seenaknya. Nggak bisa bayar karena alasan ini lah, itu lah, tapi bisa beli barang-barang."

Belum sempat gue ngomong buat ngasih masukan positif, nyokap udah ngomong lagi.

"Tapi tadi ibu baca di google, kata Mario Teguh juga ibu nggak boleh sedih. Ibu harus kuat."

Sumpah, gue ngakak denger itu. Bisa-bisanya nyokap gue kenal Mario Teguh dari google. Apa-apan ini.

Tapi ya, gimana pun juga, nyokap gue adalah sosok temen curhat paling asik buat sharing. Makanya, dari dulu, gue selalu ngenalin pacar-pacar gue ke nyokap. Bahkan setiap kali putus dan punya pacar baru, gue pasti cerita ke nyokap. Dan nyokap juga ngerespons dengan welcome banget, bahkan nyokap gue bisa akrab sama pacar. Jarang lho, ada orangtua yang bisa welcome ke pacar anaknya. Gue sendiri nggak begitu deket sama orangtua mantan-mantan pacar gue. Nggak tahu kenapa, mungkin karena gue emang jarang ketemu orangtua mereka. Bahkan ada yang belum pernah. Oke, itu persoalan lain. Next.

4. Nyokap Gue Lagi Baca Postingan Ini

Terakhir, nyokap gue itu care banget sama gue. Over care malah. Makanya, beliau suka baca-baca postingan di blog ini. Gue sendiri nggak tahu dari mana awalnya nyokap bisa tahu blog ini, soalnya gue nggak pernah ngasih tahu kalo gue punya blog. Tapi pada suatu hari, tiba-tiba aja nyokap bilang bahwa beliau baru aja baca salah satu postingan gue.

Semenjak itu, nyokap jadi makin sering baca-baca postingan di blog ini. Nggak cuma blog sih, kadang juga nyokap stalk akun instagram gue cuma buat liat-liat vidgram yang gue bikin. Entah apa motivasinya.

Tapi ya udah lah ya, mumpung nyokap gue lagi baca, sekarang gue cuma mau bilang, "Happy Mother Day, Mom!"

Ini adalah ucapan selamat hari ibu yang kedua. Gue masih inget (ibu masih inget nggak?) kalo dulu gue pernah bikin tulisan selamat hari ibu di kertas, yang gue hiasi dengan gambar. Gue bikin itu waktu lagi di rumah nenek, dan gue tahu bahwa hari itu adalah hari ibu pas liat iklan di tv. Awalnya gue nggak tahu hari ibu itu apaan, tapi liat beberapa iklan, gue langsung ngerti.

Waktu itu gue masih SD. Kelas dua kalo nggak salah (FYI, waktu masih TK gue udah bisa baca lancar dan kelas satu SD udah bisa nulis rapi). Gue ngambil kertas dari buku yang ada di lemari Om Deni, terus gue nyoba ngegambar nyokap. Di situ gue sisipin beberapa tulisan, terus gue kasiin ke nyokap. Udah lama banget ya, waktu SD dan sekarang gue udah lulus SMK.

Selama sembilan belas tahun, gue cuma ngucapin happy mother day dua kali. Parah emang. Tapi apalah artinya mother day, karena bagi gue, everyday its our day! Thanks God, for give me supermom. Im so lucky for it.

Even if I grow old, I'll never grow up. Cause I wanna be your kids, always, mom. Ya, meskipun gue bertambah tua, tapi gue nggak mau menjadi dewasa. Gue ingin selalu menjadi anak kecil, karena gue tahu jadi dewasa itu ribet. Terutama kalo punya anak kayak gue. Eh, gimana, gimana?

Well, ini lah kisah gue sama nyokap. Mana kisah lo? Mau sharing? Email aja, gue dengan senang hati bakal baca!

***

PS:

Buat kalian yang selalu ngerasa sedih karena nggak punya pasangan di hari valentine, jangan bodoh. Masih banyak di luar sana yang nggak punya orangtua di hari ibu. #BOOM!
Read More

Tragedi Cinta Illuminati

Posted on 11.44.00 Tidak ada komentar:
- diary
Yo wasap? Apa kabs!

Setelah beberapa minggu sibuk ngurusin banyak hal, akhirnya gue punya waktu juga buat bikin video lagi. Yap, kemarin-kemarin gue bikin video parodi "10 Tipe Gamers" bareng @candraardian10 di YouTube:


Tonton videonya di: youtube.com/rakaprasetyaa

Itu adalah pertama kalinya gue bikin video parodi "tipe-tipe" untuk versi YouTube. Biasanya bikin buat versi Instagram. Sejauh ini, menurut gue bikin video parodi itu lebih enak buat versi YouTube. Soalnya durasi bisa lebih dari 15 detik. Jadinya nggak harus banyak mempersingkat durasi, nggak harus minim dialog, dan yang jelas bisa lebih puas ngelengkapin materi.

Oh iya, di video itu juga gue sisipin beberapa behind the scene di mana si Candra gagal fokus gara-gara nggak bisa nahan ketawa sama nggak hapal dialog. Jadi ya, kalo kalian merasa terhibur dan ketawa pas nonton video itu, percayalah bahwa kami ketawa lebih parah selama proses pembuatan videonya. Hahaha.

Nah, info upload video barunya udah. Sekarang lanjut ke inti postingan.

Gue mau curhat tentang kejadian yang baru aja gue alami beberapa waktu yang lalu, tragedi cinta illuminati. Just in case buat yang belum tahu illuminati itu apaan, illuminati adalah sebuah organisasi atau kelompok ilegal para penyembah pintu jamban. Dan seperti organisasi lain pada umumnya, illuminati pun memiliki logo untuk organisasi mereka. Logonya adalah segitiga. Jadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan segitiga dapat disimpulkan sebagai konspirasi illuminati. Iya, seperti kolor, misalnya.

Tapi di postingan kali ini gue bukan mau bahas kolor. So, buat kamu-kamu yang udah antusias pas baca kata kolor di atas dan berharap gue bakal bahas seputar perkoloran, maaf banget harapan kalian belum bisa gue kabulkan. Mungkin lain waktu. Sekarang yang mau gue bahas adalah salah satu teori konspirasi illuminati, tapi dari sisi asmara: cinta segitiga.

Yoi. Kurang illuminati apa coba? Udah illuminati banget ini, men. Parah.

***

Well, tragedi cinta segitiga ini berawal dari perkenalan gue dengan dua orang cewek. Yang pertama namanya Yara (nama disamarkan untuk keamanan pihak yang bersangkutan) dan yang kedua namanya Agus. Oke, gue bercanda. Yang kedua namanya Sinta (nama disamarkan supaya pihak pertama dan kedua nggak sirik-sirikan). Dari segi fisik, Yara lebih tinggi daripada Sinta. Kulitnya sawo matang, rambut panjang, dan jidatnya lumayan luas. Kira-kira cukup lah buat parkir gerobak bakso malang 10 biji. Sedangkan Sinta, tubuhnya agak pendek, berisi, rambut nggak panjang tapi nggak pendek juga sih, dan kulitnya sedikit lebih putih.

Kalo dari segi sikap, Yara keliatan lebih pemalu. Dia lebih banyak diem kalo lagi ngumpul ngobrol rame-rame. Terutama kalo pas ngumpulnya pada ngobrolin teori relaktivitas mesin kalor berbahan bakar ketombe sapi. Tapi dari semua sikapnya, yang paling menonjol itu adalah sikap nggak tegaan. Iya, saking nggak tegaannya, setiap gue sms nggak pernah dibales. Katanya karena setiap perbuatan udah ada yang ngatur balasannya. Bijak banget ini orang, ya Allah. Sedangkan Sinta adalah kebalikan dari Yara. Dia lebih berani dan lebih gampang mengakrabkan diri.

Sejak pertama kali ngenal mereka, gue ngerasa ada sesuatu yang berbeda dari Yara. Hampir setiap sikapnya bisa bikin gue ketawa. Mungkin karena dia pentium satu. Iya, pentium satu. Tapi dari segi itu lah, gue jadi sadar bahwa gue bisa suka sama dia. Karena gue bisa ketawa dan bahagia waktu ngobrol sama dia, karena itu lah gue ngerasa nyaman saat bersamanya. Yang gue tahu: kita nggak perlu ribet-ribet nyari orang yang sempurna. Kita cuma harus jeli nemuin orang yang bisa bikin kita bahagia (dan lupa sama masalah nilai di raport yang subhanallah jeblok semua) hanya dengan berbicara. Karena kelak saat nanti kita udah lanjut usia, kita masih bisa menghabiskan waktu bersamanya meski udah nggak punya apa-apa. Nemuin orang yang nyaman diajak ngobrol itu susah lho, serius.

Hari demi hari terus berganti. Nggak kerasa, kurang lebih udah hampir dua bulan gue temenan sama Yara dan Sinta. Seiring berjalannya waktu, perasaan gue ke Yara pun semakin jelas. Dan gue jadi semakin yakin untuk ngungkapin perasaan itu kalo udah nemu waktu yang pas. Entah keberutungan lagi mihak ke gue atau emang udah waktunya aja, tiba-tiba hari itu muncul kesempatan bagi gue untuk ngungkapin semuanya. Berawal dari obrolan basa-basi iseng, eh malah jadi serius. Nggak mau nyia-nyiain peluang, akhirnya gue pun memutuskan untuk yakinin Yara bahwa gue emang suka sama dia. Di awal-awal sih, gue dapet good respons, dia udah ngasih lampu hijau. Tapi karena suatu problem, walhasil realita nggak sesuai dengan ekspetasi gue.

Dia bilang, dia mau aja pacaran sama gue. Tapi dia nggak bisa karena Sinta suka sama gue. Dari jauh hari, Sinta pernah cerita ke Yara kalo dia suka sama gue. Dan berhubung mereka udah sahabatan sejak masih berbentuk sel sperma, jadinya Yara ngerasa nggak enak aja kalo pacaran sama gue. Yara ngerasa kayak nikung sahabat sendiri. Oke, I know, pas dapet respons itu, gue langsung nyoba klarifikasi permasalahan. Gue bilang kalo di sini posisi Yara bukan nikung. Soalnya bukan dia yang nembak gue, tapi gue yang nembak dia. Kalo ujung-ujungnya Yara nerima gue, itu bukan pilihan yang salah. Itu suatu bentuk pembelaan diri untuk menuruti kata hati.

Maksud gue gini lho, kalo akhirnya gue jadian sama Yara, terus Sinta musuhin Yara gara-gara udah nikung dia, itu suatu tindakan yang tidak terpuji (ya elah). Kalo pilihan Yara pacaran sama gue disebutnya nggak menghargai persahabatan antara Yara dan Sinta, maka sikap Sinta yang nggak nerima kenyataan bahwa gue sukanya sama Yara disebut apa? Bukannya fungsi sahabat itu selain buat dipinjemin duit adalah buat saling support? Yang harus digaris bawahi dalam masalah ini adalah gue yang nembak Yara, bukan sebaliknya.

Jadi kalo Yara nerima gue karena dianya juga emang mau, ya itu udah beda persoalan. Sebagai seorang sahabat yang udah sahabatan sejak masih berbentuk sel sperma, harusnya Sinta bisa bersikap lebih bijak dan dewasa dong? Dan harusnya Sinta juga ngerti, bahwa cinta itu bukan ekspetasi. Cinta itu bukan paksaan. Cinta itu bukan milik satu orang. Tapi milik dua orang yang menjadi satu hati dalam satu jalan. Iya, kalimat yang terakhir itu gue dapetin dari buku Mario Teduh yang berjudul 1001 SMS Gombal.

Ehm. Setelah gue dan Yara berdiskusi dan melakukan deklarasi meja cinta, akhirnya muncul sebuah keputusan bijak atas kesepakatan kami berdua. Solusi dari problem yang menghalangi jalan hubungan kami cuma satu: backstreet. Ya, gue sama Yara jadinya backstreet demi menjaga perasaan pihak-pihak yang bersangkutan. Bener kan apa kata gue. Udah cinta segitiga, pacarannya dirahasiain pula. Mendekati banget sama presentasi bahwa hubungan ini termasuk teori konspirasi illuminati. Atau mungkin sebenernya hubungan kayak gini udah banyak yang ngejalanin? Gue curiga, di luar sana kayaknya percintaan model ini udah populer. Mungkin nama pergerakannya adalah Illuminalove. Semacam pacaran yang dirahasiakan karena melibatkan pihak ketiga gitu. Parah.

Singkat cerita, gue sama Yara pun sepakat backstreet. Semuanya berjalan lancar di hari pertama. Karena pas di hari kedua, gue diputusin. Iya. Gue diputusin. Pacarannya cuma sehari.

PACARANNYA CUMA SEHARI!

Ini pacaran atau nyewa motor? Elah. :|

Gue diputusin dengan alasan, "Kayaknya kita lebih enak temenan deh. Kalo pacaran, kita nggak bisa sedeket kayak pas temenan. Aku ngerasa kurang nyaman." Meski jujur, gue ngerasa ada yang aneh. Toh kita pacarannya backstreet. Mau pacaran atau enggak juga nggak ngaruh. Deket ya deket aja. Karena yang orang lain pikir, gue sama Yara nggak pacaran. Jadi di mana ngaruhnya? Gitu. Tapi ya udah lah ya, gue cuma nggak mau maksa aja. Gue tahu, yang namanya pacaran itu harus kedua belah pihak yang berjuang dan berusaha. Karena kalo cuma satu orang yang berusaha, itu bukan pacaran. Tapi wirausaha. Jualan batagor contohnya.

Selang dua hari setelah gue diputusin Yara, dia update status galau gitu. Pas gue tanya kenapa, dia masih belum mau cerita. Tapi gue udah punya feeling, mungkin dia disakitin sama cowok. Waktu itu firasat gue berkata: Yara mutusin gue demi cowok itu, tapi cowok itu malah nggak jadian sama Yara. Semacam diharkosin gitu lah. And you know what the kampret is goin on? Tebakan gue bener. Beberapa hari kemudian, Yara baru berani cerita ke gue. Dia cerita tentang cowok yang ngasih harapan palsu. Dan dia juga sempet kepikiran bahwa ini adalah hukum sebab-akibat (sebagian orang menyebutnya karma) dari sikapnya yang kemarin.

Dalam kondisi ini, gue sebagai orang yang terbuang nggak dendam ke Yara. Gue malah tetep peduli ke dia. Jujur, ini sebuah perasaan yang nggak gue mengerti. Dia orang yang ngebuang gue, tapi dia juga yang gue peduliin. Entahlah. Mungkin gue udah terhipnotis oleh konspirasi illuminati. Tapi satu hal yang gue tahu, pura-pura nggak peduli sama orang yang pernah ngisi hati kita itu nggak gampang. Sekuat apapun kita nahan buat acuh nggak acuh, tetep aja rasa peduli itu ada, meski nggak diungkapin atau ditunjukin.

Dan sewaktu awal-awal diputusin, jujur gue nggak berani nyapa Yara kalo ketemu di jalan. Bukan karena benci, tapi gue cuma bingung, gimana caranya berpura-pura keliatan "hei, gue baik-baik aja lho!" seolah nggak ada masalah di depan orang yang kita sayang, saat posisi kita sebagai orang yang terbuang? Susah, men.

Udah ah, ngomongin cinta mah nggak bakal ada selesainya. Ini juga gue mau ngakhirin postingan karena adzan subuh. Kebayang kalo nggak ada adzan. Mungkin gue bakal terus aja curhat. Begitu selesai negara ini udah diserang Dajjal. Astagfirulloh.

Ngomong-ngomong soal Dajjal, ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran gue. Dajjal aja yang udah ditakdirkan kalah oleh Allah masih nekat mau ngelawan Imam Mahdi. Masa gue yang masih punya kesempatan buat menangin hati dia mau nyerah gitu aja? Tsah. Apalah ini. Taek.

Well, satu hal yang gue dapet dari pengalaman suram ini, gue nggak boleh larut dalam kegalauan. Karena seperti kata seorang bijak:

"Yang lalu biarlah berlalu. Untuk ke depannya, mari kita coba rebut kembali."

Iya, itu orang bijaknya gue sendiri. Tentunya kebijakan yang bersangkutan pun cuma berlaku untuk diri gue pribadi. Woyeah.

***

Tambahan:

Makasih banget buat Ulfa Rahmi (@UlfaRahmiM) dan Megantri Putri (@PengagumhujanID) yang udah jadi first listener curhatan ini sebelum akhirnya gue tulis di blog.

Masukan-masukan dari kalian ngemotivasi banget buat gue. Thanks a lot! :D

***

Tambahan lagi:

KTP gue udah jadi!


Sumpah unyu banget potonya.
Read More

Tentang Patah Hati

Posted on 06.41.00 Tidak ada komentar:
- diary
Tepat dua minggu lebih dua bulan lebih dua tahun (kok ribet banget ya bacanya) yang lalu, gue mulai terjun ke dunia tulis menulis di blog. Yoi, gue mulai ngeblog itu sejak 21 Juni 2013. Itu berarti, waktu gue lagi nulis postingan ini, gue udah ngeblog selama dua minggu lebih dua bulan lebih dua tahun. Sekali lagi, kok ribet banget ya bacanya.


Kalo yang itu ribet banget liatnya.

Anyway, apa aja yang gue dapetin selama ngeblog dua tahun ini? Banyak. Serius. Buat temen-temen yang up to date sama postingan-postingan di blog ini dari dulu, pasti udah tahu lah gue dapet apa aja dari blog. Buat yang belum tahu, gue pernah dapet pacar (kalo nggak percaya stalk aja postingan yang dulu-dulu) meski akhirnya berujung suram. Terus, gue pernah dapet hadiah lomba nulis sinopsis di blog yang diselenggarakan oleh penerbit RakBuku sebagai juara pertama. Gue juga dapet tawaran dan kesempatan menjadi anak media sebagai admin twitter sekaligus penulis artikel di salah satu media informasi, yang kemudian dapet pengalaman menjadi tukang turun ke lapangan (baca: ngeliput) di event-event keren, dan masih banyak lagi.

Overall, dari semua hal yang gue dapetin di blog ini, gue dapet yang paling penting dan berharga. Apa? Temen-temen pembaca dan apresiasi dari mereka. Bagi gue, itu adalah sesuatu yang nggak ternilai harganya. Terima kasih, buat semua temen-temen yang selalu mengapresiasi postingan-postingan di blog ini. Without you guys, I'm nothing! :))


Salah satu alasan kenapa temen gue banyak, itu karena gue menulis.

Seperti kata seorang bijak, "Membaca dapat membuatmu mengenal dunia, dan menulis akan membuat dunia mengenalmu." Gue lupa nama orang bijaknya, tapi gue sepakat sama quote itu. Ya, menulis akan membuat kita punya banyak temen. Azek.

Tapi meskipun gue seneng bisa dapet banyak apresiasi dari temen-temen, itu bukan berarti gue mau diajak pacaran ya.


Ya, sebenernya selain karena mau fokus bahagiain orangtua dan ngejar cita-cita, gue nggak mau pacaran dulu itu karena gue orangnya taaruf. Pacaran hanya membawa umat manusia pada kemaksiatan. Yoi, islami banget gue, men.

Nggak percaya kalo gue orangnya islami? Nih buktinya gue sempet ceramah di BBM:



Iya meskipun setiap kali ceramah, pasti ada aja pihak-pihak yang bertolak belakang pemikirannya sama gue:




Ketika penceramah malah diceramahin balik. Pedih.

Dan untuk memperkuat bukti bahwa gue orangnya emang islami, gue juga sempet bikin video cara bangunin orang buat sholat subuh:


Source: instagram.com/rakaprasetyaaa

Cover videonya emang mirip film Terminator gitu. Tapi isinya nggak terlalu serem kok. Percayalah. Nggak percaya? Udah, percaya aja.

***

Well, sesuai judul postingan, kali ini gue mau cerita tentang mantan. Berhubung mantan gue agak banyak (bukti bahwa gue selalu gagal dalam urusan cinta), gue sempet bingung mau nyeritain mantan yang mana. Ada mantan pacar, mantan gebetan yang nggak sempat jadi pacar, ada juga mantan kecengan yang belum sempat jadi gebetan apalagi jadi pacar. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, akhirnya gue memutuskan untuk cerita tentang mantan pacar aja.

Namanya Nia. Lengkapnya Aghnia Nurul Khairunnisa. Dia mantan pacar gue waktu zaman SMP di SMPN 6 Bandung:


Kalo dari segi fisik, Nia itu kulitnya putih bersih, pipi cabi, dan mata agak sipit karena dia emang punya darah campuran (darahnya dioplos) antara Indonesia dan China. Urusan badan, Nia itu lebih pendek dari gue. Kurang lebih tingginya sebahu lah. Nia juga orangnya tomboy. Waktu zaman pacaran sama gue, rambut dia itu dipendekin. Makanya kalo kami jalan berduaan, gue bakal terlihat seperti seorang pedofil maho.

Kalo dari segi sifat, Nia itu orangnya cerewet. Di chat sih emang agak pendiem. Tapi kalo udah ngobrol face to face, beuh, nanyain hal sepele aja bisa dijawab pake pidato! Tapi justru sifat itu lah yang membuat gue nggak pernah kehabisan bahan obrolan kalo lagi sama dia. Di samping itu, Nia juga orangnya gokil, absurd, kadang feminim, kadang ngeselin. Overall, dia baik kok sumpah.

Nah, jadi ceritanya, dulu itu kami satu sekolah, satu angkatan, tapi beda kelas. Pertama kali gue kenal dia itu waktu kelas dua. Pas dia masuk ke kelas gue buat nyimpen kotak kencleng sumbangan pembangunan masjid. Kebetulan dia anak OSIS, dan mungkin waktu itu anak OSIS yang diberi kewajiban buat nyimpenin kotak kencleng ke setiap kelas.

Di SMP gue, kalo siswa naik kelas dari kelas satu ke kelas dua, temen-temen sekelasnya bakal dirolling. Mungkin tujuannya supaya semua siswa jadi lebih saling mengenal satu sama lain. Nah, waktu di kelas dua, gue duduk sebangku sama Hadi Choirumanhaq (pas lulus SMP dia lanjut ke SMKN 5 Bandung. Kalo ada yang kenal, itu temen baik gue). Kebetulan Hadi itu temen sekelas Nia waktu kelas satu. Jadi pas si Nia masuk ke kelas gue buat nyimpen kotak kencleng itu, dia sempet jalan-jalan dulu ke bangku Hadi, dan itu bangku gue juga.

"Eh, Hadi, kamu masuk kelas 8.4?" kata Nia.

"Iya, kamu sekarang di kelas berapa emang?"

"Aku mah di 8.1 hehe."

"Oh, kirain nggak naik kelas."

"Ih." Nia mulai jengkel. "Ngomong-ngomong, muka kamu masih kayak gitu ya? Nggak berubah. Hahaha."

"Lah kamu? Badan kamu juga masih kayak gitu, nggak berubah."

"Ih, segini mah aku makin tinggi!" jawab Nia sambil ngeliat bet nama gue, "Siapa namanya? Oh Raka. Segini mah aku udah tinggi ya, Ka?"

Gue ngangguk-ngangguk aja biar cepet.

"Tuh, kata temen kamu juga segini mah aku udah tinggi!" cetus Nia pada Hadi.

"Iya lah iya, terserah."

Selesai basa-basi sama Hadi, Nia pun keluar dari kelas gue. Terus gue tanya Hadi, "Yang tadi temen lo?"

"Iya, si Nia. Temen pas kelas satu."

Ohh.. Nia. Di situ lah pertama kali gue tahu namanya.

Sepulang sekolah hari itu, gue langsung iseng nyari akun facebook dia. Gue yakin, Nia pasti punya facebook. Karena tahun itu, facebook adalah standar kelayakan seseorang untuk diakui tingkat kegaulannya. Apalagi kalo facebooknya rame terus. Semakin rame, semakin gaul. Alhamdulilah, dulu gue termasuk anak yang gaul di facebook. Nggak percaya? Nih liat buktinya. Sekali bikin status, berapa komentar coba:


276 komentar! Ada yang pernah update status terus komentarnya tembus segitu?

Ehm, nggak butuh waktu sampe 5 menit, gue udah dapet facebook dia. Gue add, dan besoknya langsung diconfirm. Sejak berteman di facebook, mulailah gue sama Nia jadi agak akrab di social media. Sering kirim-kirim wall, sering komen-komenan post, juga sering chatting ngobrolin hal nggak penting sampe jari jadi keriting.

Dari kebiasaan sering ngobrol di socmed, gue jadi mulai semakin akrab sama Nia. Dari akrab, timbulah rasa nyaman. Dan dari nyaman, timbulah rasa cinta. Yoi, jatuh cinta itu emang luar biasa, karena datangnya bisa dari hal-hal yang sederhana.

Singkat cerita, gue pacaran sama Nia. Kurang lebih dua bulan. Putusnya gara-gara backstreet. Iya, jadi waktu di SMP, dia itu punya sahabat cowok yang anak OSIS juga. Dan sahabatnya itu kurang suka sama gue. Entah apa alasannya. Jadi, Nia ngajakin backstreet supaya sahabatnya nggak marah, dan kami bisa tetep pacaran. Awalnya sih gue bisa nerima keputusan ini. Tapi setelah dua bulan bersikap pura-pura nggak kenal sama pacar sendiri setiap berpapasan di sekolah, gue capek.

Selain capek, gue juga ngerasa nggak nyaman. Dulu, waktu belum pacaran, setiap berpapasan di sekolah kami suka saling bercanda. Bisa ngobrol panjang. Tapi semenjak backstreet, setiap berpapasan saling buang muka. Kalo pun lagi sama-sama jajan di kantin, kami saling diem-dieman.

Gue masih inget, hari itu gue lagi main di rumah Gilang (temen sekelas) pas pulang sekolah. Gue masih inget, hari itu turun hujan cukup deras. Gue masih inget, hari itu music player Gilang lagi muterin lagu Perih dari Vierra. Dan gue juga masih inget, hari itu hubungan gue sama Nia berakhir dengan kalimat, "Ya udah, kita putus aja."

Setelah lulus dari SMP, Nia hijrah ke Lombok karena ikut keluarganya. Dia melanjutkan sekolah di sana. Sesekali kami masih sering komunikasi. Dia juga sempet ngasih kabar, kalo lulus SMA nanti, dia mau lanjut kuliah di Bandung. Sewaktu dia masih di Lombok, dia sering bilang kalo nanti udah ke Bandung lagi, dia pengin main bareng gue.

Dan gue, selalu nunggu hari itu tiba.

***

Jumat, 6 Februari 2015.

Setelah empat tahun lebih nggak ketemu, akhirnya hari itu gue reunian sama Nia. Iya, mantan itu alumni hati. Jadi pasti ada suatu momen yang disebut reuni. Semuanya berawal dari chat ini di pagi hari:


Tadinya emang mau jalan tanggal 14 Februari, karena hari ini gue lagi sakit, dan karena kebetulan 14 Februari itu malam Minggu.

Gue: "Iya tanggal 14. Aku lagi sakit kalo sekarang."

Nia: "Sakit apa? Ya udah aku ke rumah kamu aja. Mau dibawain apa?"

Gue: "Nggak enak badan sama batuk-batuk doang. Bawa martabak cokelat!"

Nia: "Oke, pulang ngampus ya. Aku bubaran kampus jam 5 sore, paling nyampe rumah kamu maghrib."

Gue kira bercanda. Eh ternyata dia beneran dateng!

Nia nelepon gue, "Halo, Ka? Martabaknya nggak ada. Jadinya mau dibawain apa?"

"He? Aku bercanda!"

"Ih, udah nggak apa-apa, mau dibawain apa?"

"Ngg.. apa aja lah yang kamu juga suka. Jadi nanti kamu ikut makan juga."

"Spaggetti mau?"

"Jangan lah, kan lagi batuk, kecuali spaggettinya nggak pake bumbu. Tapi nggak enak juga sih."

"Ih, ya martabak cokelat juga nggak boleh harusnya! Kan lagi batuk!"

"Oh iya ya.. -__-"

"Ya udah, jadinya mau apa?"

"Apa aja deh, bebas."

"Oke, nanti aku telepon lagi kalo udah deket rumah kamu."

Malam itu, sekitar jam 7, Nia baru nyampe di rumah gue karena kejebak macet di jalan.

Nggak banyak yang berubah dari dia selama empat tahun ini. Dari segi fisik, semuanya masih mirip. Pipinya, tingginya, suara cemprengnya, nggak berubah.

"Nih, jadinya aku bawa ini." kata Nia sambil ngeluarin box KFC.

"Ya udah, kamu dulu yang nyoba."

"Lho? Kan ini buat kamu?"

"Kan tadi di telepon aku bilang makan berdua, makanya aku minta beli yang kamu suka juga."

"Oh iya lupa. Ya udah, aku juga makan."

Gue pikir dia mau bawa makanan yang dicomot. Kayak martabak atau kue cubit. Makanya gue minta yang dia suka juga supaya bisa dimakan berdua. Eh nggak tahunya bawa nasi. Jadilah kami makan satu box bedua, meskipun dia cuma nyendok beberapa suap:


Cuma di posisi duduk sebelahan tinggi kami bisa sepantaran.

Sambil makan, gue sama Nia sambil ngobrolin banyak hal. Mulai dari kesibukan masing-masing, sampe ngetawain cerita pacaran zaman SMP dulu. Dan saat itu gue baru sadar, bahwa kami sudah bukan lagi orang yang sama. Ya, kalo dulu, kami masih bocah yang cintanya cuma karena suka-sukaan aja. Kalo sekarang, kami jadi sedikit lebih dewasa. Kenapa? Karena malam itu, kami bisa menertawakan cerita cinta lama yang penuh duka. Nyokap gue pernah bilang, "Seseorang dibilang dewasa itu kalo dia udah bisa ngetawain masa lalunya yang penuh luka. Karena untuk menerima sebuah luka butuh sikap yang dewasa."

Malam itu, kami ngobrol sampe jam 10. Setelah pamitan sama nyokap dan dipeluk sambil dicubit-cubit pipinya (kata nyokap gue sih gemes), Nia pun pulang. Gue anter dia ke rumahnya. Oke, gue tahu gue lagi sakit. Dan kalo gue keluar terus kena angin malem, itu bisa bikin repot. Tapi kalo ngebiarin dia pulang sendiri di atas jam 10, itu bakal lebih repot lagi.

Malam itu, adalah malam di mana gue ngerasa balik lagi ke zaman SMP. Masa di mana pernah duduk berdua sama dia di bawah pohon deket jembatan penyebrangan sepulang sekolah, ngobrolin banyak hal dari jam 3 sore sampe maghrib.

Kalo kalian pernah main ke Stasiun Bandung, terus pernah ngelewatin jembatan penyebrangan kecil yang begitu turun ada warung, terus di sebelahnya ada pohon gede, nah, itu tempat gue nembak Nia waktu kelas 2 SMP. Kalo sekarang mungkin udah jadi emperan yang jualan batu akik.

Well, dari postingan ini, gue cuma mau bilang, "Semua kisah tentang luka, kelak akan menjadi sebuah cerita penuh tawa, saat kita sudah cukup dewasa untuk menerimanya."

Dengan kata lain, jangan larut terlalu lama dalam kesedihan, karena bahagia menunggu kalian di masa depan.

Gila, bijak banget gue kali ini..

***

Tambahan:

Beberapa hari setelah Nia ke rumah gue, kami sempet main lagi. Waktu itu niatnya mau nyari rujak. Tapi karena langit mulai mendung dan gerimis udah turun, jadinya gue diajak ke rumah dia. Di sana kami ngabisin waktu buat nonton film. Dari jam 5 sore sampe jam 10 malem. Terus, gue dapet ini pas pulang dari rumahnya:

Gue dapet dus berbentuk persegi panjang!

Ya, isinya dodol rasa rumput laut dari Lombok! Kalo pernah nyobain permen jelly aneka rasa, kira-kira kayak gitu rasanya. Enak kok sumpah.

Waktu gue lagi nulis postingan ini, dia lagi di Lombok. Liburan semester kayaknya. Balik lagi ke Bandung sekitar akhir bulan Agustus. Mau minta dodol rumput laut lagi ah.

Btw, gue juga baru tahu kalo di Lombok ada pabrik dodol.
Read More

Momen Tak Terlupakan Di Sekolah

Posted on 11.23.00 Tidak ada komentar:
- diary
Wah, hari ini udah masuk ajaran baru 2015-2016 ya. Nggak kerasa, liburan telah berakhir. Buat temen-temen yang udah lulus dari SMP dan baru masuk SMA/SMK/Pesantren, selamat! Karena mulai hari ini, hidup kalian akan lebih berat oleh tugas-tugas yang bakal bikin mencret setiap saat! Buat temen-temen yang udah lulus dari SMA/SMK, semangat! Karena hidup kalian akan dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan "Kapan lulus kuliah? Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan bisa jawab?" dan kapan-kapan lainnya. Buat temen-temen yang udah lulus dari pesantren, sekian! Iya, sekian aja. Karena gue nggak berani nakut-nakutin calon-calon ustad dan ustadzah. Heuheu.

Well, kalo ngomongin tahun ajaran, gue jadi inget sama masa-masa sekolah waktu dulu. Masa-masa di mana banyak begadang karena sibuk ngerjain tugas, masa-masa di mana sering dimarahin guru karena ketahuan pacaran sama tukang cireng di kantin, masa-masa susah tidur karena setiap malem mikirin gimana cara gantiin duit SPP yang nggak kebayar, masa-masa di mana beli pulpen hampir seminggu sekali karena ngilang mulu, masa-masa di mana nggak boleh nonton film bioskop yang 18+ karena masih pake seragam putih abu, dan masih banyak masa-masa suram yang lainnya. Tapi meskipun masa-masa sekolah gue selalu dipenuhi oleh hal-hal yang mengerikan, alhamdulilah, gue lulus.


Iya meskipun pihak dinas pendidikan sempet migren tiga bulan karena dilema mau ngelulusin gue atau enggak.

Ngg.. oke, abaikan tulisan di atas.

***

Selain masa-masa yang udah gue sebutin tadi, gue juga jadi inget sama momen-momen yang nggak bakal pernah gue lupain selama menjadi anak sekolah. Momen apa aja?

1. Cinta Lokasi

Yoi. Ini momen anak sekolah banget. Gue yakin, kita semua pasti pernah suka sama temen satu sekolah. Entah adik kelas, kakak kelas, temen sekelas, temen yang nggak naik kelas, orang yang kerjanya bersih-bersih kelas, atau mungkin orang yang suka ngajar di kelas. Tapi siapapun itu, kita juga pasti pernah ngalamin yang namanya "susah buat ngungkapin rasa itu" ke mereka. Benar bukan? Bukan.

Kita bukan susah buat ngungkapin rasa itu, tapi kita cuma nggak berani buat ngungkapinnya. Susah sih enggak, cuma ya nggak berani aja.

Gue juga pernah ngalamin hal ini, beberapa kali. Yang pertama, waktu gue suka sama Adinda, temen satu angkatan tapi beda kelas. Itu waktu gue kelas satu SMP. Tahun itu, gue cuma bisa mengagumi Adinda dari jarak jauh, dan cuma bisa komunikasi sama dia via sms. Setiap kali kami berpapasan di sekolah, gue nggak pernah berani buat nyapa dia. Yang kedua, waktu gue suka sama Veranissa. Itu waktu kelas dua SMP. Dia temen sekelas gue. Meskipun kami satu kelas, tetep aja gue nggak berani buat ngungkapin perasaan. Ujung-ujungnya dia keburu diembat orang. Temen sekelas pula. Emang kampret tuh orang.

Nah, kalo kalian lagi ngalamin hal ini sekarang, gue punya tips untuk mengatasinya. Gimana? Gampang. Kalian cukup pura-pura sibuk sendiri. Misalnya kayak orang bingung yang lagi nyari sesuatu. Lakukan hal ini ketika berada di dekat orang yang kalian suka. Kalo kalian udah keliatan pura-pura sibuk, nanti doi bakal nanya ke kalian, "Lagi ngapain sih?" terus kalian langsung jawab aja dengan pasang muka pede, "Lagi mikirin gimana caranya bisa deket sama kamu. Hehe." Kalo beruntung, doi bakal respons kalian. Kalo sial, ya paling doi langsung kabur karena merasa hidupnya mulai terancam.

2. Lupa Ngerjain PR

Ya. Udah bukan hal yang aneh kalo kita lupa ngerjain PR. Dan gue paling sering ngalamin momen ini. Tapi karena gue orangnya jago ngeles, gue punya satu kata-kata maut yang bisa bikin guru memaklumi kesalahan kita ini.

Jadi, kalo misalnya kalian lupa ngerjain PR dan temen-temen sekelas nggak mau ngasih contekan, kalian harus hapalin teks ini buat dipake ngeles pas ditanya sama guru kenapa nggak ngerjain PR. Teksnya?

"Maafkan saya atas ketidaknyamanan ini. Sebenarnya saya sangat ingin mengerjakan PR. Namun di saat kemarin saya sedang mengerjakannya, tiba-tiba ada gangguan profesional yang tidak bisa dihindari. Jujur, saya sangat antusias dengan PR ini. Tapi apa daya, Tuhan memiliki rencana lain.."

Insha Allah, itu guru bakal langsung ngajak ngaji dan baca ayat kursi satu kelas. Kegiatan belajar pun diundur minggu depan.

3. Waktu Ospek

Momen waktu ospek itu emang momen yang nggak bakal pernah dilupain. Bisa jadi karena sangat gokil dan menyenangkan, bisa juga karena sangat sumpah-apa-bangetlah-ini-ospeknya-parah. Gue sendiri waktu awal masuk ke SMK Chemica, ospeknya gokil sekaligus ngeselin.

Gokil karena banyak game seru dan temen-temen baru yang asik. Sedangkan ngeselin karena barang bawaan buat ospeknya rumit semua. Gue masih inget, waktu itu gue disuruh bawa Si Gundul Menyala Dalam Kegelapan. Itu artinya permen loli. Tapi kalian tahu apa yang gue bawa? Tepat. Gue bawa lampu neon. Gue diketawain kakak kelas habis-habisan. "Kamu ini sekolah di analis kimia, bukan di industri listrik! Hahaha!"

YA MANA GUE TAHU, ELAH!

Oke, next.

4. Nungguin Guru Dateng

Entah kalo di sekolah lain, tapi di sekolah gue sering banget gurunya telat dateng. Alasannya pun mainstream. Macet di jalan lah, ada acara mendadak lah, ada acara mendadak terus macet di jalan lah, pokoknya klasik banget. Ini nih momen yang paling gue nggak suka. Soalnya nggak adil. Bayangin aja, kalo kita telat, guru suka marah-marah. Tapi kalo guru telat? Mereka bisa ngeles seenaknya, dan mau nggak mau kita harus mengiyakan alasan mereka. Di manakah letak keadilan dalam dunia persekolahan?

Guru itu adalah sosok yang akan muridnya tiru. Kalo gurunya nggak bisa menghargai murid, gimana muridnya mau menghormati guru? Meskipun gue tahu bahwa aturan di sekolah itu adalah "murid yang membutuhkan guru", tapi tetep, guru juga harus bisa ngasih feedback yang baik ke murid.

Ini kenapa gue jadi kayak pemberontak ya? Bodo. Gue cuma mau numpahin rasa kesel aja.

Dan oh, satu hal lagi yang bikin gue bingung saat guru telat dateng, kenapa guru boleh bilang, "Hari ini saya akan telat (atau tidak bisa hadir), tolong belajar sendiri dulu untuk sementara waktu." Tapi murid nggak boleh bilang, "Hari ini saya akan telat, silakan ngajar sendiri aja dulu untuk beberapa waktu."

Pernah gue mencoba bilang gitu ke salah satu guru via chat BBM, begitu diread gue langsung didelcont.

5. Pembagian Raport

Hehehe. Bener banget. Momen ini adalah momen paling bahagia yang penuh canda tawa bagi mereka yang pinter di kelasnya. Tapi bagi gue, momen ini adalah momen di mana nyokap bakal pura-pura nggak mengenali anaknya sendiri ketika nama gue diabsen dan nyokap diceramahi oleh wali kelas.

Buat temen-temen sekelas gue yang dulu menjadi ranking 10 besar, percayalah, waktu itu gue hanya memberi kalian kesempatan untuk membanggakan diri pada orangtua masing-masing. Gue sih bisa aja nyusul prestasi kalian, terus berada di posisi ranking pertama saat pembagian raport tahun itu. Tapi ya, udah lah, yang lalu biarlah berlalu. Gue hanya selalu berusaha menjadi teman yang baik buat kalian. Makanya gelar 10 besar itu gue berikan tanpa pernah meminta imbalan. Gue mah gitu orangnya.

Hashtag #GueMahGituOrangnyahhh

Ngomong-ngomong soal pembagian raport, ada satu momen yang paling gue nggak ngerti selama ini. Itu waktu para juara (biasanya yang cewek) salam-salaman ke temen-temen terdekatnya sambil nangis histeris. Adegannya selalu sama. Temen-temen terdekat sang juara bakal berjajar membentuk barisan kecil, terus sang juara bakal meluk dan nyium pipi temen-temennya satu per satu. Mereka ngelakuin ritual itu sambil nangis seolah-olah hari itu akan menjadi pertemuan terakhir bagi mereka. Yang bikin gue bingung, itu mau bersyukur atas prestasi yang diperoleh sang juara atau mau ngantre masuk neraka?

Biasa lah, namanya juga cewek. Serba drama. Kalo cowok? Serba salah. Gue mah napas aja salah.

***

Hell yeah, itu lah lima momen semasa sekolah yang nggak bakal pernah gue lupain. Terutama momen yang terakhir. Masa-masa sekolah gue emang suram. Makanya pas temen-temen gue lulus dari sekolah keluarnya ijazah, gue lulus dari sekolah keluarnya unek-unek.

Ya udah, sebelum gue ngemil oskadon karena inget sama nilai raport, postingan kali ini gue tutup aja sampe di sini.

Be happy with your school, ya!
Read More

Surat Cintaku Yang Pertama

Posted on 18.22.00 Tidak ada komentar:
- diary
Waktu kelas 4 SD, nyokap ngajak pindah rumah dari Bandung ke Tanjungsari. Gue nggak tahu apa alasan nyokap memutuskan untuk pindah rumah. Yang gue tahu, kalo gue pindah rumah (terlebih pindah kota), gue bakal pindah sekolah juga. Untungnya waktu kelas 3 SD gue nggak pacaran sama temen sekelas. Jadi kalo ada acara pindah sekolah kayak gini, nggak nyesek-nyesek banget.

“Ka, besok kita pindah rumah ke Tanjungsari.” kata nyokap, sehari sebelum kami pindah.

“Tanjungsari?”

“Iya, deket rumah Kiki. Nanti rumah baru kita tetanggaan sama rumah Kiki.”

Kiki itu saudara gue. Sebenernya dia adiknya nyokap sih. Jadi harusnya dia itu paman gue. Tapi karena umur kami cuma beda dua tahun (tuaan gue pula), gue manggil dia dengan namanya aja.

“Berarti nanti Aka pindah sekolah juga ya?” tanya gue, memastikan.

“Iya, nanti Aka satu sekolah sama Kiki.”

“Oke.”

Gue pindah rumah pas liburan kenaikan kelas. Which mean, waktu itu gue masih punya satu minggu untuk main sebelum akhirnya masuk sekolah di sekolah yang baru. Selain diisi dengan main, hari-hari liburan gue juga diisi dengan ngaji.

Waktu itu, Kiki ikut kelas pengajian sore di salah satu madrasah. Lokasinya lumayan jauh dari rumah. Gue sama Kiki pergi ke madrasah pake sepeda. Gue pake sepeda fixie, Kiki pake sepeda gunung. Maklum, rumah baru gue yang di Tanjungsari emang masuk wilayah dataran tinggi. Waktu itu, saking semangatnya gue buat ikut ngaji sambil nyari temen, gue sampe lupa buat bawa tas dan alat tulis. Alhasil waktu belajar nulis bahasa Arab, gue bengong.

“Ki, bawa pulpen dua nggak?” tanya gue pada Kiki.

“Enggak, ini aja Kiki nulisnya pake pensil.”

“Beuh, ya udah, pensilnya punya dua nggak?”

“Enggak, ini juga pensilnya minjem ke temen.”

“Ya elah.”

“Bentar, Kiki cariin pinjeman ke yang lain.”

Kemudian Kiki mulai berdiri dari kursinya dan jalan-jalan ke setiap bangku. Nggak lama kemudian, dia balik lagi sambil bawa sebuah pensil.

“Nih, Ka, ada pensil dari Sherly.”

Gue ambil pensilnya. “Oke, makasih.”

“Ada salam juga dari Sherly.” Sambung Kiki, “Tadi dia nanya, ‘itu siapa?’ Kiki jawab saudara dari Bandung, baru pindah rumah. Terus dia nanya lagi, ‘namanya siapa?’ Kiki jawab namanya Aka. Terus dia bilang, ‘salamin, bilang ke Aka, ada salam dari aku, gitu.’ Tuh, yang itu orangnya.”

Pas gue nengok, ternyata Sherly juga lagi nengok ke arah gue. Waktu itu, gue cuma bisa lempar senyum doang. Sherly balik senyum juga.

“Kalo yang itu namanya Asri,” kata Kiki lagi, sambil nunjuk ke cewek yang lainnya, “Itu cewek yang aku suka. Dia pacar aku.”

Astagfirulloh.

“KAMU KELAS DUA SD, KI! SADARLAH!!”

Tahun itu, gue adalah anak polos yang belum ngerti cinta. Boro-boro ngerti, waktu dapet salam dari Sherly aja gue bingung harus ngapain, makanya cuma bisa senyum, karena gue pikir salam yang gue dapet itu adalah salam buat kenalan sebagai temen. Nggak lebih.

***

Singkat cerita, satu minggu pun telah berlalu. Gue udah lumayan dapet banyak temen di sini. Ada Rizky, Roni, Toni, Januar, Cecep, Alpin, Hardi, Fajar, Ari, dan Salma. Karena rumah baru gue ini bentuknya komplek, rumah gue sama temen-temen jaraknya deketan. Yang paling deket dari rumah gue itu rumah Rizky dan Salma.

Setelah menghabiskan satu minggu masa liburan, akhirnya gue sama nyokap berangkat ke SD Margaluyu (gue lupa nama SD-nya, kalo nggak salah sih Margaluyu) untuk daftar. Pas daftar, gue sempet ditanya sama kepala sekolahnya, “Oh, siswa pindahan, ya? Mau nerusin ke kelas empat atau ngulang dari kelas satu?”

Pertanyaan macam apa itu..

“Nerusin dong, Pak.” timpal nyokap, “Masa ngulang dari kelas satu? Jauh banget turunnya.”

“Oh, iya, iya,” Pak kepala sekolah manggut-manggut. “Mau daftar di kelas A atau kelas B?”

“Kelas A aja, Pak.” lagi-lagi nyokap yang menjawab, “Soalnya ada temennya di sebelah rumah. Namanya Rizky.”

Rizky, temen baru yang rumahnya tepat di sebelah rumah gue itu, ternyata dia juga siswa pindahan dari Bandung. Gokilnya, dia juga baru pindah di kelas 4 ini. Jadi, gue bukan satu-satunya siswa baru.

“Oh, iya, iya,” kelapa sekolahnya manggut-manggut lagi. “Ya udah, besok Raka dateng ke sini pake seragam ya, langsung mulai belajar. Oh iya, kelas A masuk jam pagi. Barengan aja sama Rizky.”

Gue mengangguk pelan.

Keesokan harinya, gue berangkat sekolah bareng Rizky, Roni, Toni, dan Fajar. Kiki nggak bareng gue karena jam sekolah kami beda. Sesampainya di sekolah, gue langsung masuk kelas, kebagian duduk di bangku ketiga dari depan. Gue duduk sebangku sama Rizky. Di sekolah ini, gue dapet banyak temen baru dengan nama yang unik bagi gue. Ada Tian, Pian, Soleh, Sony, Imas, Irma, Oneng (sumpah, namanya beneran oneng), Ujang, Acep, sisanya gue lupa.

Di hari pertama, waktu selesai jam istirahat, gue langsung disorakin sama anak-anak sekelas, “Ciee Raka ciee dapet salam dari Irma, ciee! Si Irma suka tuh sama kamu, Ka.”

Beberapa siswa lain ada yang bilang, “Tuh, Ka, si Irma bogoh, ditarima moal?” yang artinya: “Gila, nyet, seragam lo bagus!”

Hari pertama masuk sekolah, adalah hari pertama gue dibikin malu sama anak satu kelas. Parah.

Satu minggu berlalu. Sekarang giliran kelas gue yang masuk siang. Kelas B masuk pagi. Seperti biasa, sebelum masukan gue sama temen-temen disuruh baris dulu untuk pemeriksaan kuku dan kelengkapan atribut seragam. Nah, pas lagi baris, tiba-tiba ada anak cowok dari kelas B yang menghampiri barisan gue. Namanya Sandy, gue masih inget banget.

“Yang namanya Raka yang mana?” kata Sandy ke salah satu temen sekelas gue.

“Itu, yang itu,” jawab temen gue sambil nunjuk ke arah gue.

“Kamu yang namanya Raka?”

Gue mengangguk.

“Ada salam dari Sherly.”

“Sherly? Kayak pernah denger namanya, tapi di mana ya..” jawab gue dalam hati, mencoba mengingat-ngingat. Waktu itu, gue ngaji satu hari. Setelah ikut pengajian di hari pertama, gue nggak pernah dateng lagi ke sana. Jadi, gue agak lupa sama Sherly.

“Tuh, yang itu orangnya,” sambung Sandy, menunjuk ke arah dua orang cewek. “Yang pake kerudung.”

Pas gue nengok, gue langsung inget. OH! Cewek yang minjemin gue pensil waktu itu! Ternyata dia sekolah di sini juga. Tapi dia masuk kelas B. Nggak nyangka, gue bisa ketemu lagi sama dia. Terlebih, sekarang kami satu sekolah. Dan di sini lah semuanya berawal.


Waktu itu hari Minggu. Gue lagi di main PS di rumah Salma. Semenjak temenan sama Salma dan Iam (adiknya Salma), gue emang jadi sering main di rumah mereka. Setiap hari malah. Biasanya gue ke rumah mereka pas sore sepulang sekolah. Kalo nggak main PS, ya paling main sepedaan bareng keliling komplek. Itu pun malem hari (paling malem sampe jam sembilanan) karena sekolah gue sama sekolah Salma beda. Jadinya jawal main kami emang dikit.

Pas gue lagi anteng-antengnya tanding Crash Team Racing sama Iam dan Salma, tiba-tiba si Kiki nyelonong masuk dan bilang, “Ka, dipanggil Sherly. Tadi waktu Kiki jajan ke warung, Kiki ketemu Sherly. Terus disuruh manggil Aka. Katanya Sherly mau ngobrol.”

“Sherly mana, Ki?” tanya Salma.

“Itu, si Sherly yang di madrasah.”

“Oh, si Sherly..”

“Ya udah, yuk buruan, Ka.” timpal Kiki.

Kemudian gue sama Kiki naik sepeda ke rumahnya Salma. Gue pikir jauh. Ternyata deket. Jalan kaki 3 menit juga nyampe. Rumah Sherly sama rumah gue cuma beda tiga blok. Kalo dari rumah gue, tinggal jalan lurus sampe nemuin blok ketiga, terus jalan lagi dikit sampe ke rumah paling depan.

Begitu tiba di rumah Sherly, di sana ada cewek temennya Sherly yang waktu itu gue liat di sekolah. Namanya Shella. Dia sedikit lebih tinggi dari Sherly dan matanya juga agak sipit. Pas gue parkirin sepeda, Shella langsung nyuruh gue duduk di teras rumah Sherly.

“Sini, Ka, duduk di sini aja,” kata Shella, “Kita lagi ngerujak nih. Cobain deh.”

“Oh iya,” jawab gue, “Sherly ke mana? Bukannya nyuruh aku ke sini?”

“Lagi mandi dulu bentar.”

Astagfirulloh. Mau ngobrol aja harus mandi dulu.

Beberapa menit kemudian, Sherly keluar dari pintu rumahnya. Selesai makan rujak yang Shella bikin, Sherly langsung ngajak gue ngobrol di saung yang ada di depan rumahnya. Shella sama Kiki entah di mana saat itu.

“Iya jadi gitu, Ka, aku suka sama kamu,” kata Sherly, setelah menceritakan semuanya pada gue. “Kamu suka nggak sama aku?”

Pas ditanya gitu, entah kenapa gue langsung jawab, “Oh, iya, aku juga suka sama kamu.” mungkin karena selama ngedengerin cerita Sherly, gue terus ngeliatin mukanya. Dan gue baru nyadar kalo dia lumayan cantik karena hari itu dia nggak pake kerudung.

“Hehe. Pacaran yuk?” tiba-tiba Sherly ngomong itu gitu aja.

DANG!

Gue bengong. Udah nggak tahu lagi harus ngomong apa. Ini pertama kalinya gue ditembak sama cewek. Gue sempet diem beberapa menit.

“Ka?”

“Eh, iya, apa?” gue kaku parah.

“Iya itu, pacaran. Mau nggak?” tanya Sherly sekali lagi.

Hari itu, gue menjawab tawaran Sherly dengan isyarat kepala yang dianggukan secara perlahan. Dan keesokan harinya, secara ajaib kabar gue pacaran sama Sherly langsung nyebar gitu aja di telinga temen-temen sekolah gue. Padahal gue sama Sherly beda kelas. Tapi entah dari mana mereka bisa tahu. Mungkin dari Sandy.

***

Sejak gue pacaran sama Sherly, kami jadi lumayan sering ketemuan buat ngobrol atau main. Zaman gue SD, mainnya orang pacaran itu adalah ngerujak bareng, sepedaan keliling komplek bareng, dan main petak umpet bareng. Dulu, itu udah kebilang romantis buat takaran anak SD. Kalo pacaran anak sekarang sih, palingan main GetRich bareng.

Tapi meskipun gue lumayan sering ngabisin waktu sama Sherly, gue masih tetep sering main sama Salma. Nah, itu dia masalahnya.

Pernah suatu hari, waktu gue lagi main di rumah Salma sama Kiki, tiba-tiba Salma nyeletuk, "Eh, Ki, panggil Sherly ke sini dong. Aku pengin ngobrol sama pacarnya si Aka. Hahaha." Dan kampretnya, si Kiki nurut-nurut aja sama Salma. Dia langsung berangkat ke rumah Sherly. Nggak lama kemudian, Sherly pun dateng ke rumah Salma.

"Hey.." sapa Sherly pada gue dan Salma.

"Oh, hey.." jawab Salma. "Sini masuk, duduk aja."

Sherly masuk, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah kanan gue. Posisi kami waktu itu: gue duduk di sofa bareng Kiki. Gue dan Kiki duduk berseberangan dengan Salma. Sherly duduk di kursi sebelah kanan yang berbeda.

Entah apa yang ada di kepala Salma waktu itu, tapi dia langsung sok akrab ngajak ngobrol Sherly. Dan Sherly juga welcome nanggepin obrolan Salma. Gue sama Kiki dikacangin oleh dua cewek.

Waktu itu Sherly nggak ngobrol lama di rumah Salma. Mungkin sekitar 20 menitan. Dia pamit pulang dengan alasan mau siap-siap ngaji. Sherly pulang bareng Kiki, yang juga mau sekalian ngaji. Sedangkan gue jadi main PS lagi sama Salma.

Dua hari kemudian, Sherly minta gue ketemuan. Pas ketemu, dia ngasih gue surat yang ditulis di kertas selembar, dibungkus oleh amplop.

"Apa ini?" tanya gue.

"Buka aja. Tapi nanti di rumah."

"Emang kenapa kalo sekarang?"

"Jangan!" Sherly bersikeras mencegah gue, "Bukanya di rumah aja."

"Kalo aku maunya sekarang?"

"BUKANYA DI RUMAH AJA!"

"I-iya, di rumah.. iya.."

Sherly menghela napas, "Ya udah, aku pulang dulu ya. Kalo nanti udah dibaca, aku tunggu jawabannya."

"Dijawabnya pake surat juga?"

"Enggak. Besok kita ketemu lagi aja. Dijawabnya ngomong langsung."

"Di rumah aku juga?"

"Ih! Di sini lah!"

"Ngg.. iya.."

"Ya udah. Aku pulang ya.."

"Iya, aku juga pulang."

"Jangan lupa dibaca suratnya!"

Gue pulang. Sesampainya di rumah, gue langsung buka amplop yang tadi dikasih Sherly. Gue baca secara perlahan, kemudian gue bengong. Isi suratnya:

"Sebenernya kamu pilih aku atau Salma?"

Udah. Gitu doang.

Ya Allah.

Itu surat cinta pertama yang gue terima. Dulu, gue belum tahu yang namanya cemburu. Gue jadi nggak peka kalo waktu ngasih surat itu, Sherly lagi cemburu pada Salma. Yang gue pikir waktu itu, Sherly cuma iseng nanya, atau penasaran karena gue sering main sama Salma.

Keesokan harinya, kami ketemuan lagi. Di saung depan rumah Sherly lagi. Seperti janji kemarin, gue harus jawab pertanyaan dari surat yang Sherly kasih.

"Jadi gimana?" kata Sherly, "Udah dibaca kan suratnya?"

"Udah."

"Terus?"

"Aku bingung."

"Kenapa?"

"Nggak tahu."

Sherly diam.

Gue diam.

"Kamu mau pilih aku atau Salma? Soalnya kata Kiki, kamu sering main sama Salma. Kan kamu pacar aku." kata Sherly, setelah beberapa menit kami terdiam.

Gue cuma bisa diam.

"Ka?"

Gue yang sedari tadi nunduk, mencoba memberanikan diri untuk menatap matanya.

"Ka-kamu, kenapa nangis?" tanya gue, bingung.

"Enggak kok."

"Itu, mata kamu basah, dikit sih."

Mata Sherly bergelinang, tapi air matanya nggak turun.

"Udah jawab aja, kamu pilih aku atau Salma?"

"Aku bingung."

"Hehehe."

Sherly mulai senyum, tapi senyumnya beda dari yang biasanya. Ini senyuman yang nggak gue mengerti. Belakangan gue baru tahu, senyuman itu adalah senyuman sedih, mencoba menahan rasa kecewa. Gue baru tahu arti senyuman itu waktu pacaran sama Hanny, pas kelas 3 SMP.

Terserah mau percaya atau enggak, tapi semua yang gue tulis di atas adalah true story. Surat cinta dari Sherly gue simpen di laci mesin jahit yang ada di gudang. Beberapa hari setelah gue simpen, surat itu ketahuan sama nyokap. Beliau langsung ngeledekin gue, "Ciee si Aka dapet surat cinta! Hahaha." Itu gue malunya tingkat dewa.

Waktu kenaikan kelas dari kelas empat ke kelas lima, gue balik lagi ke Bandung. Gue sekolah lagi di SDN Sejahtera 6 Bandung. Semenjak itu, gue belum pernah pacaran lagi sampe kelas satu SMP.

Sekarang Sherly di mana? Entahlah. Kabar terakhir waktu gue ke Tanjungsari pas kelas enam SD, dia udah pindah rumah ke Jalan Karasak. Pertemuan terakhir gue sama Sherly adalah hari itu, hari di mana dia nanya gue pilih dia atau Salma. Gue nggak pernah berhasil nyari akun facebook-nya Sherly, soalnya gue lupa nama lengkap dia.

Kalo Salma? Terakhir gue ketemu dia itu waktu kelas 5 SD pas liburan semester. Waktu gue sama keluarga silaturahmi ke rumah saudara yang ada eh Tanjungsari. Gue sama Salma ngobrol di dalem mobil, kursi belakang. Karena waktu itu cuma berdua, gue baru berani nyeritain tentang surat cinta yang dulu dikasih Sherly. Salma ketawa terbahak-bahak. Setelah malam itu, gue nggak pernah ketemu Salma lagi sampe sekarang.

***

Well, mungkin pengalaman gue ini emang cinta monyet. Tapi yang mau gue garis bawahi di sini adalah: "Kalian yang sekarang remaja bahkan dewasa, apakah cinta kalian sesimpel cinta monyetnya gue?"

Karena yang gue perhatiin, cinta anak remaja dan orang dewasa itu terlalu rumit. Udah sering banget gue ngeliat orang pacaran yang saling diem-dieman pas lagi ada masalah. Coba liat Sherly. Apa kalian bisa sesimpel dia waktu nyatain perasaannya ke gue? Berusaha dengan segala cara, meski butuh bantuan Kiki dan Sandy. Coba liat Sherly. Apa kalian bisa sesimpel dia waktu ngungkapin rasa cemburunya ke gue? Berusaha dengan apa yang dia bisa, meski butuh bantuan selembar kertas. Coba liat diri sendiri. Ada masalah malah diem. Yang cewek nggak mau ngomong, yang cowok nggak mau mulai.

Dari Sherly, gue belajar satu hal:

"Cinta itu komunikasi, bukan teka-teki."

Oh, God, I miss that girl.

***

Tambahan:

Kemarin ada yang nyasar ke whatsapp gue, terus dia bilang gini:


Kesannya kayak gue suka pilih-pilih orang kalo mau bales chat ya..

Buat temen-temen yang mau saling sapa, sekadar sharing, atau transaksi jual beli kolor sama gue, kontek aja. Gue bales semua chat yang masuk kok. Cuma ya maaf kalo nggak langsung dibales. Kan gue juga punya kehidupan. Heuheu.
Read More
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)